Ketika Para Amil dan Nazir di Afrika Semangat Adopsi Model Zakat Wakaf Baznas-IPB University

Ketika Para Amil dan Nazir di Afrika Semangat Adopsi Model Zakat Wakaf Baznas-IPB University

Ketika Para Amil dan Nazir di Afrika Semangat Adopsi Model Zakat Wakaf Baznas-IPB University
Berita / Pengabdian Masyarakat

IPB University melalui Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) merespons permintaan dari negara-negara Afrika terutama Afrika Barat untuk berbagi pengetahuan mengenai tata kelola zakat dan wakaf.  

Pada 16-28 April 2025 lalu, IPB University dengan menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Islamic Development Bank (IsDB) menyelenggarakan pelatihan tata kelola zakat dan sertifikasi amil yang pesertanya berasal dari negara-negara Afrika. Dalam kegiatan tersebut, IPB University mengenalkan cara mengukur dampak zakat dengan model Cibest.

Dekan FEM IPB University, Dr Irfan Syauqi Beik mengatakan, IPB University berinisiatif menyelenggarakan pelatihan dan sertifikasi tersebut karena memiliki pengalaman dari sisi teoritis maupun praktikal terkait pengelolaan zakat dan wakaf. Ditambah lagi, IPB University memiliki ekosistem ekonomi syariah yang lengkap. 

Dr Irfan membeberkan, tujuan IPB University berinisiatif menyelenggarakan pelatihan dan sertifikasi tersebut agar potensi zakat dan wakaf yang sangat besar bisa dioptimalkan di seluruh dunia. Afrika Barat dan Afrika Tengah termasuk wilayah yang belum tereksplorasi potensi zakat dan wakafnya. 

“Kedua, kami juga ingin menguji beberapa teori-teori dan instrumen yang ditemukan oleh tim peneliti IPB University. Apakah bisa berjalan, dikerjakan, dan diterapkan di negara lain? Ternyata model Cibest bisa diterapkan di negara-negara Afrika Barat,” beber Pakar Ekonomi Syariah IPB University ini.

Dr Irfan mengungkapkan bahwa peserta pelatihan dan sertifikasi amil zakat dan wakaf dari Afrika langsung mempraktikkan ilmu yang didapatkannya. Artinya, inisiatif IPB University dalam mengenalkan tata kelola zakat dan wakaf yang baik memberi pengaruh luar biasa bagi negara-negara di Afrika.

“Ternyata apa yang dipraktikkan dan diajarkan melalui pelatihan tanggal 16-28 April 2025 kemarin langsung di-follow up. Beberapa informasi yang masuk ke saya, pertama Ghana, itu langsung mem-follow up model Indonesia dengan mengumpulkan banyak stakeholder. Mereka menyebutnya ‘Indonesian Model’, padahal itu model Baznas IPB University,” ungkap Dr Irfan. 

Begitu pun dengan peserta dari Nigeria. Dr Irfan menyampaikan bahwa Azawon –asosiasi pengelola zakat dan wakaf se-Nigeria– langsung mengadakan pertemuan, seminar, hingga rapat konsolidasi nasional untuk menindaklanjuti model pengelolaan zakat dan wakaf dari IPB University.

“Kami senang sekali dan bahagia apa yang kami lakukan ternyata bisa memberikan jejak-jejak di wilayah Afrika Barat untuk pengembangan zakat dan wakaf,” ujarnya.

Dr Irfan menambahkan, inisiatifnya tersebut pada dasarnya sebagai realisasi dari visi institusi, yakni mewujudkan IPB University sebagai university leader, khususnya bagi negara-negara dunia ketiga.

“Tugas kami bagaimana ikut berusaha mewujudkan itu sebagai bagian dari tanggung jawab. Bagaimana kita ingin menjadi university leader, pemimpin universitas. Menjadi global life sustainable university, menjadi pemimpin terutama di negara dunia ketiga,” katanya. 

Dr Irfan berharap, pelatihan dan sharing knowledge tersebut memberikan dampak positif terhadap pengelolaan zakat dan wakaf di negara-negara Afrika. Ia juga berharap inovasi-inovasi IPB University bisa memberi manfaat bagi pengelolaan zakat dan wakaf di negara dunia ketiga. (MHT)