FPIK IPB University Kirimkan Tim Peneliti Tangani Masalah Budi Daya Lobster
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University mengirim tim peneliti untuk menangani permasalahan industri budi daya lobster berbasis marikultur di Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur. Penanganan berupa identifikasi masalah dan rumusan solusi, kegiatan rutin budi daya lobster dasar laut dan praktik lapangan bagi mahasiswa IPB University di Departemen Budidaya Perairan (BDP) FPIK.
Pengiriman tim peneliti ke Bangsring didasari perjanjian kerja sama FPIK IPB University dengan PT Teras Samudera Sejahtera (PT TSS). Tim peneliti IPB University terdiri dari Dr Irzal Effendi, dosen BDP IPB University bersama tiga mahasiswa sarjana dan pascasarjana. Turut hadir dalam pengiriman tim peneliti Prof Fredinan Yulianda, Dekan FPIK IPB University, Hadiyanto selaku Direktur Utama PT TSS dan Prof Mala Nurilmala, Wakil Dekan bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan.
Prof Fredinan Yulianda mengungkapkan, budi daya lobster di dasar laut cukup unik. Pasalnya di kedalaman 10-15 meter dengan keramba besi (bottom cages) dengan jaring baja menimbulkan banyak tantangan, baik secara fisik maupun pikiran. Namun, hal tersebut tidak menjadi halangan bagi tim peneliti FPIK IPB University untuk tetap berkomitmen membantu menyelesaikan permasalahan industri lobster.
“Kinerja produksi budi daya lobster bisa menggunakan analisis kondisi oseanografi, hidrologi, klimatologi dan kualitas air kawasan. Desain, dimensi dan layout keramba dasar laut juga penting. Diperlukan identifikasi penyakit dan parasit serta upaya pencegahan dan pengobatan. Selain itu, penggunaan aplikasi beberapa teknologi budi daya terkini dan applicable penting untuk meningkatkan kinerja produksi,” jelas Prof Fredinan Yulianda saat memimpin diskusi rancangan penelitian.
Hadiyanto selaku Direktur Utama P TSS menyambut hangat kedatangan tim peneliti FPIK IPB University dikarenakan bertujuan memajukan perikanan lobster di Indonesia. Komitmen yang sama dengan FPIK IPB University menjadi awal kolaborasi tersebut dengan menghasilkan proses penelitian yang akan berlangsung. Hadiyanto menyebut, permasalahan utama bagi pelaku budi daya antara lain kualitas dan kelangsungan hidup lobster.
“Belakangan ini terjadi penurunan kinerja produksi lobster. Kejadian ini disebabkan oleh menurunnya mutu lingkungan perairan, munculnya penyakit terutama milky diseases, tingginya tingkat kematian dan menurunnya produktivitas,” ungkap Hadiyanto.
Selain aktivitas budi daya, PT TSS juga memiliki penanganan pascapanen dan pengolahan lobster menjadi berbagai menu masakan yang disajikan dalam wisata kuliner, termasuk membantu pelayanan kepada konsumen (pramusaji).
Kerja sama ini juga menjadi ajang Praktik Lapangan Marikultur (PLM) bagi mahasiswa BDP IPB University. Juga sebagai rangkaian akademik yang harus ditempuh mahasiswa dan melibatkan segala sumber daya akademik (dosen, mahasiswa, teknolog dan peralatan penelitian) yang lebih luas.
Dengan demikian, melalui kerja sama ini dapat dihasilkan publikasi berkualitas yang lebih banyak, dengan tetap berorientasi kepada pemecahan masalah yang dihadapi oleh dunia usaha dan dunia industri. (*/Rz)
