Mengenal Fenomena Harmful Algal Bloom (HAB) dan Dampaknya Terhadap Kelautan Indonesia

Mengenal Fenomena Harmful Algal Bloom (HAB) dan Dampaknya Terhadap Kelautan Indonesia

mengenal-fenomena-harmful-algal-bloom-hab-dan-dampaknya-terhadap-kelautan-indonesia-news
Berita

Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University menggelar Marine Science Webinar. Marine Science Webinar yang belum lama  ini digelar mengangkat topik “Perubahan Iklim dan Harmful Algal Bloom (HAB)” dengan narasumber Dr Tumpak Sidabutar dari Pusat Riset Oseanografi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Dalam sambutannya, Dr Beginner Subhan, Sekretaris Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan mengatakan bahwa HAB merupakan salah satu fenomena yang tidak banyak dipelajari secara konsisten.  “Alhamdulillah, salah satu tokoh HAB di Indonesia, bahkan dunia, Bapak Tumpak bersedia memberikan materi mengenai fenomena dari HAB ini sendiri,” ujarnya.

Dalam kegiatan ini, Dr Tumpak memulai penjelasan mengenai HAB dari Climate Changes dan faktor terjadinya HAB. Pemicu dari HAB ini sendiri terjadi karena perubahan iklim, utamanya adalah eutrofikasi. HAB sendiri memberikan dampak salah satunya pada kehidupan biota laut.

“Meningkatnya Algal Bloom atau HAB, itu semua diakibatkan karena meningkatnya nutrien. Efek dari HAB sendiri tidak hanya berdampak pada kehidupan biota, tetapi juga kelangsungan hidup dari manusia. Efek HAB dapat terjadi secara global dan distribusinya meningkat. Misalnya aktivitas budidaya meningkat (limbah organik), perubahan iklim jangka panjang dan translokasi. Algal Bloom sendiri sering terjadi di daerah coral karena peningkatan nutrien cenderung berada di lokasi tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, HAB sudah terjadi sejak tahun 1970-an namun orang-orang baru menyadari akan fenomena ini ketika dampak dari fenomena ini sudah terasa.

“Spesies dari HAB sendiri juga terbagi menjadi tiga kategori. Yakni harmless, harmful, dan toxic. Harmful dan toxic menjadi spesies yang membahayakan ikan-ikan. HAB sendiri dapat kita tangani salah satunya dengan mengurangi nutrien yang ada dan memasukkannya pada sungai-sungai dan estuari-estuari. Peringatan dini dari HAB ini sendiri juga dapat dilihat dalam perubahan warna, kepadatan populasi, klorofil-a, nutrien dan kadar toxin,” pungkasnya. (AFD/RAT/Zul)