Eksploitasi Alam yang Berlebihan Sebabkan Virus Patogen Zoonosis Jadi Ganas
Dari sisi kesehatan hewan, merebaknya kasus 2019-nCoV yang melanda China dan beberapa negara menunjukkan bahwa penyebaran penyakit dapat dengan cepat berjalan. Virus penyebab yang berasal dari hewan liar maupun domestik kemudian berubah menjadi virus yang lebih ganas dan mampu menginfeksi manusia (zoonosis). Ini mengindikasikan bahwa peran hewan sebagai salah satu faktor penyebaran menjadi hal yang sangat penting.
Menurut Prof Dr drh Bambang Pontjo Priosoeryanto, Kepala Divisi Patologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University, 60 persen dari penyakit patogen adalah zoonotik (ditularkan dari hewan), sementara 80 persen darinya adalah multi-host.
“Selain itu, 75 persen dari penyakit-penyakit yang baru muncul berawal dari hewan (zoonotik). Hasil studi menunjukkan bahwa sejak tahun 1940 ditemukan 335 penyakit, di mana 60,3 persen merupakan zoonosis dan 71,8 persen diantaranya berawal dari satwa liar,” ujarnya dalam 10th Strategic Talks dengan tema Mengenal Lebih Jauh Virus Corona dan Strategi Mitigasi Dampak, di Kampus IPB Dramaga, Bogor (31/1).
Dalam kegiatan yang digelar oleh Direktorat Publikasi Ilmiah dan Informasi Strategis (DPIS) IPB University ini, Prof Bambang menambahkan bahwa kontak hewan liar dan berbagai spesies hewan dalam satu lokasi yang sangat intens, seperti dalam pasar hewan yang sangat beragam menjadi hal yang perlu mendapat perhatian lebih. Hal ini didasarkan pada kemungkinan besar akibat eksploitasi alam yang berlebihan sehingga menimbulkan ketidakseimbangan lingkungan.
“Ini akibat dari terbukanya lahan yang tadinya tidak bersentuhan dengan kehidupan manusia menjadi sangat terbuka. Akhirnya hewan (termasuk mikroba yang menginfeksinya maupun mikroba non pathogen) memiliki kesempatan untuk berubah menjadi mikroba yang sangat pathogen dan dapat menimbulkan penyakit serius pada manusia maupun pada hewan,” tambahnya.
Pengembangan berbagai bahan obat baru yang berasal dari kekayaan alam Indonesia yang berupa tanaman obat perlu mendapat perhatian. Ini adalah upaya kemandirian dalam penyediaan obat untuk mencapai kesehatan nasional baik bagi masyarakat maupun bagi kesehatan hewan di Indonesia. Untuk itu perlu kerjasama yang lebih erat diantara berbagai profesi. Tidak saja bidang kesehatan, namun juga semua bidang yang terkait sehingga implementasi One Health dapat berjalan dengan baik dalam upaya menuju dunia yang lebih sehat.
Sementara itu menurut Dr drh Joko Pamungkas, Dosen FKH IPB University sekaligus Peneliti di Pusat Studi Satwa Primata, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University dan juga Koordinator USAID PREDICT-Indonesisa (2014-2019) bahwa sudah waktunya pola surveilans yang selama ini dipraktikkan oleh kementerian teknis yang berkaitan dengan kesehatan secara sektoral diubah pendekatannya. Urusan kesehatan harus dilihat secara holistik, ditangani secara bersama oleh kementerian terkait yaitu: Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta kementerian lain.
“Pendekatan One Health adalah jawaban atas semua situasi dan permasalahan kesehatan yang berlangsung pada saat ini, terutama dalam upaya pengendalian penyakit infeksius. Tidak seharusnya kita menunggu kejadian yang merugikan ini berjangkit pada manusia maupun hewan ternak terlebih dahulu sehingga kerugian menjadi besar. Surveilans sentinel pada satwa liar secara periodik diharapkan akan dapat memantau keberadaan virus-virus yang bersirkulasi yang berpotensi ditularkan ke manusia maupun hewan ternak dari satwa liar sehingga dapat dicegah kejadian spillover dari satwa liar ke manusia atau hewan ternak,” ujarnya.
Seperti kita ketahui, virus Corona dapat menyebabkan kematian. Menurut Prof Dr dr Sri Budiarti, Guru Besar Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, secara umum pasien meninggal karena adanya komplikasi pneumonial dan pembengkakan pada paru-paru. Respon inflamasi pada saluran pernafasan menjadikan bronkus paru-paru penderita dipenuhi dengan lendir, menjadikan paru-paru bengkak dan penderita sulit bernafas. Dengan kondisi paru paru yang bengkak dan penuh lendir mengakibatkan oksigen tidak bisa didapat dan diedarkan ke seluruh tubuh, sehingga penderita akan lemas dan terjadi kerusakan organ lain.
“Pencegahan infeksi corona virus dapat dilakukan dengan menghindari kontak dengan pasien yang terjangkit, menghindari kontak dengan binatang liar, termasuk mengkonsumsi daging yang belum matang, secara rutin mencuci tangan dengan sabun ketika masak atau melakukan aktivitas lainnya, membiasakan hidup bersih dengan mandi secara rutin dan teratur, menutup mulut dengan tissue atau sapu tangan ketika bersin dan batuk, menggunakan masker untuk menghindari bersin dan batuk-batuk dari penderita. Pada orang dengan imunitas baik infeksi virus dapat diatasi dengan sistem pertahanan tubuh. Sistem imun yang baik dapat dikondisikan dengan pola hidup sehat (aktivitas dan istirahat seimbang), makan cukup dengan gizi seimbang,” ujarnya. (**/Zul)
