PSSP IPB Hadirkan Dua Pakar Konservasi Hutan dari USA
Jeff Wyatt, DVM, MPH, DACLAM pakar konservasi hutan dari University of Rochester, New York Amerika Serikat berhasil mengatasi kemiskinan, meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan. Tepatnya di desa Sukadana, sebuah desa di dekat Taman Nasional Gunung Palung Kalimantan Barat. Harapannya dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat maka hutan selamat dan berdampak untuk melestarikan orang utan, karena habitatnya tidak rusak oleh pembalakan liar.
“Hilangnya hutan menyebabkan dampak buruk seperti berkurangnya air bersih, meningkatnya penyakit seperti malaria dan diare, polusi udara dan global warming. Masyarakat yang hidup di sekitar hutan harus diberikan pengetahuan mengenai bagaimana menjaga hutan dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Masyarakat bersedia jika ada kegiatan ekonomi yang dapat menunjang hidup mereka sehari-hari,” ujarnya.
Sejak tahun 2007, melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Alam Sehat Lestari (ASRI), masyarakat diperkenalkan dengan pertanian organik, peternakan domba dan program kesehatan warga. Hasilnya adalah masyarakat tidak lagi merambah hutan, sebaliknya mereka akan turut menanami kembali hutan. Antara lain dengan pohon durian dan buah kesukaan orang utan.
“Peningkatan kesejahteraan warga berdampak baik pada peningkatan kesehatan dengan berkurangnya penyakit, kematian bayi dan balita. Jadi program ini akan memberikan hasil berupa peningkatan kesejahteraan warga sekitar hutan, perbaikan kesehatan mereka, reboisasi daerah-daerah illegal logging dan menyelamatkan kelestarian orang utan Kalimantan,” ujarnya saat hadir dalam Seminar “Healthcare to Heal Planet and the Nonhuman Primate Management for 21th Century” di Ruang Sidang Pusat Studi Satwa Primata (PSSP), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (22/2).
Dalam acara ini, PSSP menghadirkan Jeff Wyatt yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bagian Comparative Medicine, University of Rochester, New York USA dan Environmental Justice Advocate di Seneca Park Zoo Rochester. Selain Jeff, hadir juga Andrew Winterborn, DVM, DACLAM, Dokter Hewan Penanggungjawab di Queens University, Ontario, Canada.
Pada kesempatan ini Andrew Winterborn menyampaikan topik tentang Captive Management of Nonhuman Primate. Yakni prinsip-prinsip kesejahteraan hewan pada penangkaran satwa primata dan pentingnya program pengayaan lingkungan (environmental enrichment) untuk memenuhi kebutuhan mendasar hewan.
“Prinsip lima freedom dan lima opportunity adalah prinsip utama dalam manajemen pemeliharaan dan penggunaan satwa primata,” ujarnya.
Andrew menitikberatkan pada aspek penggunaan berbagai peralatan dan fasilitas pengandangan untuk meningkatkan kesejahteraan hewan serta refinement pada prosedur koleksi darah agar lebih tidak invasif dan mengurangi distress hewan.
Menurut Dr. Drh. Huda Darusman, Kepala PSSP IPB, kedua pakar tersebut aktif di organisasi bernama Health in Harmony yang merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Amerika Serikat yang menyelenggarakan program konservasi dan revitalisasi alam dengan pendekatan terintegrasi di beberapa negara, termasuk Indonesia.
“Informasi ini sangat relevan karena mereka melakukan upaya mengkonservasi hutan dan satwa liar dengan masyarakat diberi ilmu bercocok tanam. Upaya konservasinya menarik. Mereka melaksanakan sejak tahun 2007. Bagi IPB, apa yang dilakukan mereka dapat menjadikan model dalam pembelajaran. Mereka berhasil memberikan kesejahteraan kepada masyarakat dengan mengalihkan profesi dari perilaku illegal logging menjadi peternak, petani sehingga konservasi tercapai, satwa primata terselamatkan,” ujarnya.
Kesempatan ini juga bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa IPB dari berbagai fakultas yang ingin magang atau volunteer. “Kesempatan mendapat ilmu dari pakar yang sudah ahli. Ini bisa menjadi model pemberdayaan masyarakat untuk desa-desa lain. Kami di PSSP akan terus menjalin komunikasi. Sehingga akan ada aktivitas pendidikan, narasumber PSSP akan hadir ke sana, sehingga ada karya ilmiah yang dihasilkan,” ucapnya.(dh/Zul)
