Waspada, Tahun Ini Iklim Akan Lebih Kering dan Lebih Sedikit Hujan
Data terakhir menunjukkan akhir bulan Februari 2019, positif anomali Elnino. Elnino adalah fenomena menghangatnya air laut dari kondisi rata-rata. Jika Elnino terjadi maka iklim akan lebih kering, hujan lebih sedikit dari kondisi normal.
“Januari 2019, suhu air laut sudah menghangat. Data potensi Elnino ditunjukkan dengan memanasnya air laut di kedalaman 300 meter ke bawah,” ujar Dr. Rahmat Hidayat, Ketua Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam Lokakarya "Prospek Perkembangan El Nino 2019: Dampaknya terhadap Anomali Iklim dan Pertanian di Indonesia" di Ballroom 2, IPB International Convention Center (IICC), Bogor (26/2).
Pada acara yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ini, Direktur Publikasi Ilmiah dan Informasi Strategis IPB, Dr. Eva Anggraini, menyampaikan bahwa acara ini dilaksanakan dalam rangka antisipasi dampak el nino. Dalam sebuah literasi menyebutkan bahwa pada tahun 2019 ini, kondisi terpanas akan terjadi di awal tahun.
“Iklim ini sulit diprediksi. Elnino sangat besar dampaknya untuk ekonomi dan lingkungan. Pada bidang pertanian kita ketahui dampak kekeringan yang panjang dan cuaca ekstrim akan sangat luar biasa. Lebih luas lagi melihat ke food security. Bagaimana teknologi bisa digunakan dengan sebaik-baiknya untuk antisipasi elnino. Untuk itu perlu koordinasi dan sharing infomasi dalam acara ini,” ujarnya.
Sementara itu, menurut Dr. Ir. Aji Hermawan selaku Kepala LPPM IPB, di era revolusi industri 4.0, petani dan peternak bisa diedukasi dengan smart farming. Contohnya adalah introduksi teknologi petani di Bojonegoro. Petani dibantu mahasiswa untuk menentukan lokasi sumber air dengan menggunakan data satelit.
“Peternak Bojonegoro saat ini mulai disadarkan terhadap pentingnya data dan teknologi satelit. Ke depan hal ini akan dilakukan kepada para petani lainnya,” ujarnya.
Selain itu, Dr.Ir.Harris Syahbuddin, Kepala Balai Besar dan Pengembangan Teknologi Pertanian dalam kesempatan ini mengatakan bahwa untuk implementasi di lapangan, Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, telah menyusun pengembangan inovasi dan teknologi dan informasi terkait antisipasi dampak perubahan iklim antara lain teknologi dan informasi prediksi curah hujan bulanan hingga enam bulan ke depan berdasarkan informasi iklim global.
“Ada juga teknologi dan informasi prediksi kekeringan dalam enam bulan ke depan, informasi key area (daerah kunci) iklim Indonesia dan pemantauan dampak perubahan global terhadap iklim Indonesia, teknologi pengelolaan air berbasis mikro Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam rangka adaptasi keragaman iklim (Food Smart Village), inovasi varietas padi adaptif terhadap kondisi iklim ekstrim, seperti varietas padi tahan genangan hingga 14 hari, varietas padi unggul berumur genjah, varietas padi unggul berumur super dan genjah, varietas padi adaptif kekeringan, varietas padi tahan kemasaman, varietas padi tahan salinitas, teknologi irigasi yang hemat air,” ujarnya.
Terkait iklim, Kementan didukung oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melaksanakan beberapa kegiatan strategis. Antara lain Penyusunan dan Pengembangan Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu (2007 sampai sekarang), Upaya Khusus (UPSus)
Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai melalui Program Perbaikan Jaringan Irigasi dan Sarana Pendukungnya (mulai 2015), Pengembangan Prediksi Iklim untuk Pertanian (mulai 2015), Penyusunan dan Pengembangan Atlas Peta Kawasan Pertanian (2015), Penentuan Key Area Prediksi Iklim Indonesia (mulai 2016), Penyusunan Kalender Tanam Bawang Merah (2016), Berantas Kemiskinan Sejahterakan Petani (BEKERJA) (2018), Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI) (2019) dan Pengembangan Atlas Agroklimat (2019).
“Dalam upaya mendiseminasikan dan memasyarakatkan hasil teknologi
dan informasi, Kementerian Pertanian juga mengembangkan berbagai Sistem Informasi (SI), antara lain SI Katam Terpadu (Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu), SI-Tanam (Sistem Informasi Teknologi Pertanian Modern), SI Mantap (Sistem Informasi Pemantauan Tanaman Pertanian), serta SI Perditan (Sistem Informasi Peringatan Dini dan Penanganan Dampak Perubahan Iklim Pada Sektor Pertanian),” imbuhnya.(dh/Zul)
