IPB Siap Jadi Kampus Tangguh Bencana

IPB Siap Jadi Kampus Tangguh Bencana

ipb-siap-jadi-kampus-tangguh-bencana-news
Berita

Kejadian bencana yang begitu masif dan terjadi sepanjang tahun menuntut kepedulian semua pihak. Tahun 2018 tercatat lebih dari 2500 kejadian bencana yang memerlukan solusi dan penanganan bencana. 

Beberapa waktu lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mencanangkan Gerakan Perguruan Tinggi Tangguh Bencana (PTTB).  Untuk itu sebagai salah satu lembaga yang bergerak dalam bidang kebencanaan, Pusat Studi Bencana Institut Pertanian Bogor (IPB) terus berkontribusi dalam berbagai hal sesuai dengan kompetensi dan kepakaran IPB. Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Studi Bencana Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB saat berdiskusi dengan Rektor IPB dan Kepala BNPB di Grha BNPB, Jakarta (21/1). 

Rektor IPB, Dr. Arif Satria menyampaikan sebagai institusi pendidikan, kontribusi IPB sebagai kampus tangguh bencana bisa dimulai dengan mendorong keberadaan IPB sebagai kampus yang aman dan adaptif bencana. Langkah membangun kampus sebagai kampus hijau adalah untuk menciptakan ruang yang ramah bagi civitas kampus dan masyarakat. Langkah kedua adalah dalam program akademik, kita siap mendorong program dan penguatan materi kebencanaan seperti yang disampaikan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bahwa perlu pendidikan mitigasi bencana. Tidak kalah penting tentunya adalah kesadaran masyarakat kampus untuk sadar bencana,” ujarnya.

Untuk mencapai semua itu Rektor IPB berharap adanya afirmasi kebijakan dari pemerintah untuk Perguruan Tinggi Tangguh Bencana. Afirmasi baik dukungan regulasi, pembiayaan dan pendampingan masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Bencana serta pendampingan masyarakat terdampak bencana. Dalam hal pendanaan, menjadi catatan penting bahwa kejadian bencana hadir perlu penanganan yang cepat dan tidak memandang tahun anggaran. 

“Untuk pemerintah, perlu mempersiapkan pendanaan yang sifatnya memiliki fleksibilitas administrasi yang dapat dimanfaatkan dalam waktu cepat. Afirmasi policy pembiayaan termasuk pendidikan kebencanaan juga seharusnya dapat dilaksanakan dalam Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi,” tambahnya.

Kepala Pusat Studi Bencana, Dr. Yonvitner menyampaikan gerakan kampus tangguh bencana harus dilakukan secara sistematik untuk menumbuhkan kesadaran komunal melalui pendidikan dan aksi di daerah bencana. Sebagai contoh, saat ini IPB menyiapkan kader-kader peduli bencana melalui Mahasiswa Tanggap Bencana (Mantab). 

“Saat ini Mantab IPB dengan dukungan dari Caritas Germany dan BNPB terus melakukan pendampingan masyarakat terdampak bencana Banten, pasca tsunami yang telah dimulai sejak tahap Emergency Respon. Dukungan khusus dari Kemenristekdikti tentunya akan memperluas peran kampus menjadi lebih tangguh di dalam dan luar kampus dalam menghadapi bencana,” ujarnya.(**/Zul)