Prof. Erliza Raih Anugerah Kekayaan Intelektual Bidang Paten 2018

Prof. Erliza Raih Anugerah Kekayaan Intelektual Bidang Paten 2018

prof-erliza-raih-anugerah-kekayaan-intelektual-bidang-paten-2018-news1
Berita

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI) dalam salah satu programnya yakni Hari Teknologi Nasional (Hateknas) ke-23 menyelenggarakan malam Penghargaan Kekayaan Intelektual Bidang Paten 2018, kategori “Peneliti dengan Permohonan Paten Terbanyak dalam Pangkalan Data SINTA (Science and Technology Index) di Kompleks Gubernuran Provinsi Riau bulan Agustus silam. Dalam daftar penerima penghargaan Kekayaan Intelektual (KI) Bidang Paten 2018, Kemenristekdikti RI mengundang Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB),  Prof. Dr. Ir. Erliza Hambali dan Prof. Dr. Ir. Ani Suryani, DEA.

“Perasaan bisa mendapatkan penghargaan dari Kemenristekdikti RI tentu senang, terlebih saya tidak mendaftarkan diri, tapi terpilih untuk menerima penghargaan KI ini,” terangnya. Prof. Erliza mnyampaikan bahwa penghargaan tersebut tidak lepas dari peran dan dukungan baik moril maupun material dari Surfactant and Bioenergy Research Centre IPB,  Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fateta IPB dan Direktorat Inovasi dan Kewirausahaan (DIK) IPB. 

"Peran Direktorat Inovasi dan Kewirausahaan (DIK) IPB sangat membantu dan memudahkan  bagi peneliti untuk mendaftarkan paten. Peneliti cukup menuliskan draft paten, disampaikan ke DIK  IPB. Proses selanjutnya diurus oleh staf di DIK. Peneliti tidak disibukkan dan tidak direpotkan oleh urusan administrasi pendaftaran paten. Sangat membantu sekali selama ini,” ujar Prof. Erliza.

Prof. Erliza Hambali telah menghasilkan inovasi prospektif sebanyak sembilan inovasi dan pendaftaran paten sebanyak 13 invensi. Bahkan sebelumnya Prof. Erliza telah memperoleh Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa pada tahun 2012 dan Anugerah Inovasi Prakarsa Jawa Barat pada tahun 2012.

Prof Erliza berharap agar ke depannya, inovasi yang telah diusahakan tidak hanya sekedar apresiasi ataupun sertifikat namun juga berupa dukungan nyata untuk dapat mendorong keberlanjutan inovasinya yang terus menerus membutuhkan penelitian. “Saya berharap adanya dukungan dana sehingga inovasi yang ada bisa terus dikembangkan seperti untuk membeli peralatan-peralatan laboratorium ataupun penelitian yang membutuhkan banyak dana,” tambahnya.

Salah satu inovasi Prof. Erliza adalah industri hilir sawit  seperti surfaktan berbahan dasar kelapa sawit, yang saat ini industri surfaktan lainnya masih berbahan bakar fosil, sehingga jika dibandingkan dengan surfaktan berbahan bakar fosil, maka inovasi surfaktan karya Prof. Erliza merupakan produk yang ramah lingkungan. Menjadi dosen tidak menjadi halangan baginya dalam mengimplementasikan keilmuannya. IPB merupakan salah satu kampus yang paling inovatif di Indonesia. tercatat bahwa IPB berhasil menyumbang karya inovasi sebanyak 38,95 persen dari seluruh inovasi prospekif yang ada di Indonesia berdasarkan indeks dari Business Innovation Center (BIC).(SMH/ris).