Mahasiswa IPB Sabet Juara di Ajang Arsitektur Lansekap Dunia

Mahasiswa IPB Sabet Juara di Ajang Arsitektur Lansekap Dunia

mahasiswa-ipb-sabet-juara-di-ajang-arsitektur-lansekap-dunia-news
Prestasi

Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) dari Departemen Arsitektur Lanskap (ARL), Fakultas Pertanian (Faperta), Muhammad Faisal Ramadhan berhasil menyabet 1st Prize dalam Student Design Charrette di International Federation Landscape Architects (IFLA) World Conggress 2018 Singapore (18/7). IFLA World Conggress 2018 merupakan suatu platform utama yang menjadi pelopor arsitektur lanskap sebagai penyumbang bagi pengembangan lingkungan masa depan yang menarik, dapat ditinggali, adil, dan berkelanjutan.

IFLA World Conggress 2018 diselenggarakan di Singapore pada 14-21 Juli 2018 yang melibatkan banyak negara dari Eropa, Amerika, Afrika, Timur-Tengah, dan Asia Pasifik. Terdapat tiga tema yang diangkat yaitu Biophilic City, Smart Nation, and Future Resilience.

Sebanyak 35 finalis yang mengikuti ajang ini dibagi menjadi sembilan tim. Setiap tema dibahas oleh tiga tim. Satu tim terdiri dari empat finalis dari berbagai negara di dunia. Muhammad Faisal Ramadhan bersama tiga finalis lainnya yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Perancis berada dalam satu tim mendapatkan tema Future Resilience.

Tema ini membahas ketahanan masa depan yang memainkan peran arsitek dalam mengatasi sistem infrastruktur penting yang dikompromikan di dalam kota. Tantangan yang mengancam keanekaragaman hayati, tsunami, banjir, dan lainnya perlu diatasi. Hal tersebut dapat diatasi dengan mendisain kota tanpa menghilangkan kekayaan sumberdaya di dalamnya.

Dalam kesempatan ini Muhammad Faisal Ramadhan sempat berkunjung ke Punggol City yang merupakan salah satu kota di Singapura. Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk melihat permasalahan yang dapat mengancam keberadaan kota tersebut dalam beberapa tahun ke depan.

“Contoh bahasan resilience future itu diibaratkan ada suatu kota yang pernah dilanda tsunami kemudian kami menentukan tindakan yang perlu diambil agar tsunami ini tidak kembali terjadi di daerah tersebut,” ujar Muhammad Faisal Ramadhan.

Dalam kesempatan ini, Muhammad Faisal Ramadhan dan tim mengusung konsep bahwa beberapa tahun ke depan akan terjadi urbanisasi di Singapura. Hal tersebut dikarenakan Singapura merupakan salah satu negara yang terus melakukan pembangunan.

Terdapat satu pulau kecil di Punggol City yang memiliki biodiversitas yang tinggi dan terancam dialihfungsikan menjadi bangunan-bangunan pencakar langit. Solusi yang ditawarkan adalah menyeimbangkan pembangunan dengan tetap menjaga keberadaan alam asli dari pulau tersebut. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan adanya konsep green buildingdan pembuatan taman kota untuk menambah lahan terbuka hijau.

Dengan konsep tersebut, Muhammad Faisal Ramadhan menjadi delegasi Indonesia yang berhasil menyabet 1st Prize dalam Student Design Charrette di International Federation Landscape Architects (IFLA) World Conggress 2018 Singapore. Selain dirinya, tiga mahasiswa ARL Faperta IPB juga mengikuti ajang ini yaitu Taufik Septian Maulana, Halimah Azzahra, dan Mardiana Pulungan.

“Pengalaman berharga yang saya dapatkan dalam ajang ini adalah dapat berbagi ilmu arsitektur lanskap dengan teman dari berbagai negara. Kami lebih mengenal budaya mereka dan banyak ilmu baru yang didapatkan karena perbedaan negara juga menyebabkan banyak perbedaan ilmu lanskapnya. Selain itu, ajang seperti ini juga terus melatih kemampuan berbicara bahasa Inggris. Kami sangat berterimakasih kepada dosen yang telah mendorong kami untuk mengikuti salah satu ajang arsitektur lanskap terbesar untuk mahasiswa sedunia ini,” ungkap Muhammad Faisal Ramadhan (AD/Zul).