Mahasiswa IPB Deteksi Penyakit Diabetes Mudah dan Cepat Menggunakan Urin

Mahasiswa IPB Deteksi Penyakit Diabetes Mudah dan Cepat Menggunakan Urin

mahasiswa-ipb-deteksi-penyakit-diabetes-mudah-dan-cepat-menggunakan-urin-news
Berita

Penyakit diabetes merupakan salah satu penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat Indonesia setelah penyakit jantung. Tercatat tahun 2017 penderita penyakit diabetes di Indonesia  mencapai 10,3 juta orang. Federasi Diabetes Internasional (IDF) memproyeksikan penderita diabetes di Indonesia akan terus meningkat. Data tersebut belum termasuk penderita yang belum terdiagnosa secara klinis.

Pasalnya, biaya untuk diagnosa diabetes tidak murah dan memerlukan waktu yang lama. Hal ini menjadikan masyarakat sedikit enggan untuk periksa secara klinis.

Polemik tersebut memotivasi tiga mahasiswa Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk menciptakan alat pendeteksi diabetes menggunakan urin. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Siti Afraghassani, Sejahtera, dan Indah Lisnawati Hapsari.

Ketiga mahasiswa tersebut berhasil menciptakan alat detektor yang mereka sebut “As-Sukaru”. As-Sukaru dirancang untuk mendeteksi kadar gula darah menggunakan urin secara mudah dan cepat.

“Deteksi diabetes pada umumnya menggunakan alat yang dapat menimbulkan rasa sakit dan mungkin dapat menyebabkan rasa trauma pada pasien. Selain itu biaya yang diperlukan juga mahal sehingga perlu adanya alat yang simpel dan murah untuk mendeteksi kadar gula darahnya,” ujar Siti sebagai ketua tim.

Alat detektor yang dirancang tersebut berbasis serat optik yang dapat mendeteksi glukosa urin. Alat ini menggunakan bahan carbon nanopartikel (carbon dot) berdoping tembaga sebagai bahan sensitif terhadap glukosa. Bahan tersebut dilapiskan pada inti serat optik sebagai pengganti cladding. Selain itu, alat ini juga dilengkapi Light-Emitting Diode (LED) sebagai sumber cahaya dan fotodetektor untuk mendeteksi cahaya yang telah melewati serat optik.

Cara kerja As-Sukkaru ternyata cukup sederhana. Serat optik yang dilapisi cladding baru nantinya dicelupkan ke dalam urin yang mengandung glukosa. Ketika cladding baru tersebut berinteraksi dengan glukosa, sifat optik cladding karbon berdoping tembaga mengubah. Akibatnya akan merubah penjalaran cahaya di dalam serat optik.

Prinsipnya, cahaya dari LED yang dilewatkan akan melalui serat optik dan ditangkap oleh detektor di ujung lainnya. Hal ini karena intensitas cahaya yang diteruskan melalui serat optik sebanding dengan konsentrasi glukosa.

“Hasil tegangan itu yang akan menentukan kadar glukosa pada urin yang ditampilkan pada LED. Semakin besar tegangan maka semakin tinggi kadar glukosa pada urin,” pungkasnya.

Alat As-Sukkaru saat ini merupakan sebuah karya yang diikutkan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan dibimbing oleh dosen dari Departemen Fisika IPB,  Dr. Akhiruddin Maddu, M.Si. (**/Zul)