Pihak Swasta Perlu Lakukan Riset Demi Kemajuan Florikultura Indonesia
Dr. Dewi Sukma, Peneliti Bunga Anggrek Bulan dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) menyampaikan pentingnya kontribusi antara pengusaha dengan peneliti dalam pengembangan riset. Tidak bisa mengandalkan dana penelitian dari pemerintah karena dananya sangat terbatas. “Jika hanya mengandalkan pemerintah maka dapat dipastikan akan sangat lambat. Harapannya para pengusaha yang memiliki kapasitas yang cukup dapat mengalokasikan dana riset untuk pengembangan produknya. Di luar negeri pemuliaan tanaman sudah dilakukan swasta,” kata Dr. Dewi selaku Penanggungjawab Seminar Florikultura Indonesia 2017, Jum’at (28/7) di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor.
Dr. Dewi mencontohkan negara Taiwan dan juga Thailand. Di Thailand pengembangan florikultura di sana membutuhkan lahan seluas 70 hektar. Luas lahan ini sudah mencakup berbagai aktivitas produksi mulai dari kegiatan pemuliaan tanaman dilakukan, memperbanyak, menyilang, memproduksi bunga dan melakukan penelitian sendiri.
“Selama tidak melakukan pemuliaan sendiri, kita akan tergantung bibit impor terus. Dalam jangka panjang keberlanjutannya bisa terganggu karena bibit impor. Padahal Indonesia memiliki berbagai jenis anggrek yang luar biasa, namun belum diproduksi secara massal sehingga masih dibatasi perdagangannya,” jelas Dr. Dewi. Bidang florikultura adalah bidang yang memiliki prospek cerah. “Khusus untuk jenis komoditas bunga hias, anggrek bulan memiliki pangsa pasar dan nilai ekonomi tinggi. Satu pot anggrek bulan bisa mencapai Rp 80 ribu bahkan lebih,” ujar Dr. Dewi.
Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr. Ir. Herry Suhardiyanto dalam sambutannya menyampaikan florikultura Indonesia perlu digarap dan diperjuangkan, mengingat potensi di indonesia luar biasa besar seperti anggrek, sellosia, namun potensi tersebut belum terkelola dengan baik. “Penting dilakukan pengawalan dari hulu sampai ke hilir. Terkait dana penelitian bidang florikultura yang minim, Rektor IPB mengimbau semua pihak agar memberikan perhatian khusus supaya penelitian pemuliaan tanaman dapat ditingkatkan,” kata Rektor IPB.
Dr. Ir. Syarifah Iis Aisyah, Ketua Panitia Florikultura Indonesia 2017 menyampaikan acara florikultura Indonesia 2017 merupakan rangkaian kegiatan yang terdiri dari seminar nasional, expo produk dan karnaval yang digelar selama empat hari. Kegiatan ini diawali dengan pencanangan hari Florikultura Indonesia pada tanggal 24 Juli 2017 di Jakarta oleh Kementerian Koordinator Perekonomian Republik Indonesia (Kemenko RI). “Kegiatan ini diharapkan merangsang antusiasme masyarakat sehingga sadar bahwa tanaman hias merupakan aset yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan bernilai ekonomi tinggi. Selain itu pasar florikultura kian terbuka lebar,” kata Dr.Iis.
Lebih lanjut Dr.Iis mengatakan, saat ini pemerintah lebih fokus pengembangan tanaman pangan. Sedangkan upaya meningkatkan bidang florikultura masing sangat minim. Kegiatan ini merupakan event tepat untuk memberikan perhatian terhadap kebangkitan florikultura Indonesia. “Sejarah membuktikan florikultura sangat potensial untuk ditingkatkan. Varietas tanaman di Indonesia bukan main besarnya, sementara produk penelitiannya masih minim, karena dana penelitiannya minim. Hal ini menyebabkan balai-balai penelitian kesulitan melakukan penelitian mendetail,” ungkapnya.
Untuk memecahkan persoalan florikultura Indonesia, digelar seminar yang memfasilitasi hal tersebut. Dalam kesempatan itu, duduk bersama Academician, Business, Government, Community (ABGC) untuk berdiskusi apa yang diinginkan para pelaku bisnis tanaman hias, ke depan akan melakukan apa, sehingga hasil dari seminar berupa outline blueprint florikultura Indonesia hingga 2045. Acara ini juga mengundang 22 pemerintah daerah kota dan kabupaten yang sudah memiliki unggulan bisnis tanaman hias. Tahun ini merupakan tahap konsolidasi stakeholder untuk duduk bersama, menciptakan pengembangan produk florikultura ke depan.
Hadir sebagai narasumber seminar diantaranya: Dekan Fakultas Pertanian IPB, Dr. Agus Purwito, MSc.Agr, Kepala Pusat Litbang Hortikultura,Dr. Ir. Hardoyanto, MSc, Direktorat Buah dan Flori, Dr. Sarwo Edhi, Kepala Pusat Kebijakan Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, SH, MSi, Ketua Asbindo, Ir. Glen Pardede, MM, MBA, Perhimpunan Anggrek Indonesia, Ikatan Arsitektur Lanskap Indonesia dan PT. Monfori. (dh/ris)
