Mahasiswa Temukan Inovasi Tepat Guna bagi Pengusaha Tahu

Mahasiswa Temukan Inovasi Tepat Guna bagi Pengusaha Tahu

mahasiswa-temukan-inovasi-tepat-guna-bagi-pengusaha-tahu-news
Berita

Mahasiswa Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), Qouamunas Tsani Nuargimah, M Rivan Goishy, M Nurul Aazim Al-Fauri, dan Indrie Noerlianti berhasil meraih Inovasi Terbaik dalam Lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna, Inotekc yang digelar di Jakarta beberapa waktu silam.

Inotek merupakan sebuah inkubator bisnis yang mendukung pengembangan bisnis start-up. Event yang bertujuan mendukung pengembangan teknologi inovatif tepat guna yang akan memberikan manfaat ekonomi serta dampak positif kepada masyaraka. “ Kegiatan ini untuk menjaring inovasi-inovasi yang tepat guna dari berbagai kalangan dan bersifat umum. Pesertanya dikategorikan dua yakni umum dan mahasiswa. Kita ikut kategori mahasiswa, pesertanya mahasiswa dari seluruh Indonesia,” tutur Qouamunas.

Munas sapaan akrab Qouamunas membuat sebuah teknologi tepat guna yang dapat diaplikasikan pada proses industri tahu. Alat yang mereka buat dapat mengefisiensikan penggunan energi dan biaya dalam proses produksi tahu. “Karena lombanya teknologi tepat guna, jadi kita menyodorkan teknologi apa yang sudah kita buat. Kita buat mesin untuk membantu pengusaha tahu. Di Desa Cibanteng, Bogor terdapat pengusaha tahu. Kami kemudian survei ke sana. Dari proses pembuatan tahu itu kami mencoba mengaudit kira-kira proses mana yang bisa diefisiensikan sehigga dapat meminimalisir biaya produksi,” jelas Munas.

 Ternyata ada energi yang terbuang yaitu energi panas dari kompor. Sedangkan di tungku itu sendiri butuhblowerBlower itu  menghembuskan angin untuk tungku kompor, kalau tidak ada, apinya akan kecil. Jadi untuk menyuplai udara dibutuhkan blower. Dari situ terpikirlah bagaimana kalau pengusaha tahu menggunakan panas yang terbuang untuk menghasilkan gerakan blower. Selama ini energi blower  berasal dari energi listrik.

“Dari situ dicoba memakai beberapa cara ternyata yang pas itu menggunakan stirling engine yaitu mesin yang memang untuk mengkonversikan panas menjadi energi gerak seperti mesin ua,  tapi kalau mesin uap butuh air, kalau ini tidak jadi cuma butuh udara aja. Jadi mesin ditaruh di dekat panas itu  nanti bergerak. Setelah dilakukan riset tentang alatnya baru kami buat alatnya. Secara hitungan ekonomi itu bisa menghemat 10-30 persen. Mesin ciptaan kami ini ada mekanisme sendiri bisa bergerak cuma dipanasin, jadi tidak menggunakan bensin atau solar,” papar Munas.

Lebih lanjut Munas menjelaskan, mesin stirling ini seperti blok motor, tapi  sistemnya tertutup dan vakum. Ada bagian yang panas dan ada bagian yang dingin serta ada dua piston. Dengan mekanisme siklus stirling ini  mesin akan bergerak terus selama ada perbedaan suhu itu. Ketika diukur bagian yang panas suhunya 600 derajat dan bagian yang dingin suhunya  40 derajat dan menghasilkan energi listrik sekitar 30 sampai 50 watt untuk menggerakkan blower.

 

Tim ini mengikuti proses lomba dimulai dari seleksi berkas dan selanjutnya masuk tahap pameran dan persentasi. Munas dengan inovasi teknologi mereka yang berjudul ‘Desain Pemanfaatan Panas Buang Tungku untuk Menghasilkan Gerakan Blower dari Stirling Engine’ tersebut berhasil mengantarkan mereka menjadi juara dengan kategori Inovasi Terbaik. (IRM/ris)