Guru Besar IPB Terapkan Tiga Strategi Hadapi Kepunahan Sumberdaya Hasil Hutan Bukan Kayu

Guru Besar IPB Terapkan Tiga Strategi Hadapi Kepunahan Sumberdaya Hasil Hutan Bukan Kayu

DSC_6163
Berita
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Suminar Setiati Achmadi menawarkan tiga strategi menghadapi ancaman kepunahan sumberdaya Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Pertama, bagi penentu kebijakan, hendaknya dikampanyekan kembali penanaman tumbuhan sumber HHBK di kawasan hutan atau kawasan non hutan. Kedua, bagi para kimiawan harus banyak menggarap HHBK seperti teknik isolasi dan pengungkapan strukturnya, pembuktian khasiatnya, sampai membuat turunan dan manfaatnya. Ketiga, bidang bioteknologi harus memanfaatkan spesies hayati lain seperti jamur endofit untuk menyediakan HHBK.
 
“Produksi HHBK mengandalkan sumberdaya alam hutan yang luasnya terus menurun. Kebijakan penetapan kawasan hutan produksi seluas 44 juta hektar perlu juga diarahkan untuk melestarikan produksi HHBK. Jangan sampai ekspor produk khas tropika ini ikut merosot,” ujarnya saat menyampaikan Orasi Ilmiah Penetapan Guru Besar di Auditorium Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Darmaga (23/4).
 
Dalam orasinya yang berjudul “Pelestarian Produk Hasil Hutan Bukan Kayu Berdasakan Kajian Kimiawi” ini, Prof. Suminar memaparkan kajian yang telah dilakukannya terhadap HHBK. Di antara temuannya adalah pembuktian asam gelugur sebagai penurun tingkat Low-density lipoprotein (LDL) dan pengatur bobot badan. Minyak kayu manis dengan kandungan trans-sinamaldehida ternyata juga berfungsi sebagai antioksidan.
 
Damar mata kucing mengandung alfa kopaena sebagai senyawa utama. Senyawa bermanfaat dari pohon surian (daunnya) yang mengandung siklostanol mampu menangkap radikal bebas. Turunan dari gondorukem yang berupa ester ternyata cocok untuk biogasolin.
 
Spesies belawan putih dari hutan gambut terbukti bisa dijadikan sebagai obat diare. Minyak lawang dari Sulawesi dapat disintesis hidroksikavikol yang memiliki aktivitas antibakteri, antiradang, antioksidan, antikanker dan antimutagen.
 
Prof Suminar mengatakan, dari kajian mikologi, ada contoh menakjubkan dari pohon kina (obat malaria). Umumnya alkaloid kuinina diekstraksi dari kulit pohon. Ternyata cendawan enofit Cercospora sp dan Diaporthe spp yang diisolasi dari daun dan ranting pohon kina berhasil ditumbuhkan dalam media sintetik. Dengan begitu, kina dapat dipanen kapan pun tanpa bergantung pada proses pengulitan batang. Masih banyak lagi potensi HHBK, namun dengan berkurangnya luasan kawasan hutan, potensi ini pun terancam punah,” ujarnya. (zul)