Prof.Dr Aris Tri Wahyudi Manfaatkan Bakteri Untuk Pacu Pertumbuhan Kedelai dan Jagung

Prof.Dr Aris Tri Wahyudi Manfaatkan Bakteri Untuk Pacu Pertumbuhan Kedelai dan Jagung

Prof-Aris
Berita
Rizobakteria pemacu pertumbuhan tanaman (plant growth promoting rhizobacteria, PGPR) merupakan bakteri yang hidup dan berkoloni pada daerah rizosfer  dan mampu memacu pertumbuhan tanaman. PGPR mempunyai kemampuan untuk memperbaiki kesehatan dan kebugaran serta meningkatkan hasil tanaman. 
 
Demikian disampaikan Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr Aris Tri Wahyudi dalam konferensi pers pra orasi di Executive Lounge Kampus IPB Baranangsiang Bogor, (26/3). Ia menjelaskan,  ada beberapa bakteri yang termasuk dalam kelompok rizobakteria pemacu tumbuh tanaman ini, diantaranya Pseudomonas, Bacillus, Azospirillum, Azotobacter, Acetobacter, dan Burkholderia. Namun hanya dua rizobakteria yang sangat penting yaitu  Pseudomonas sp. dan Bacillus sp. 
 
Melalui riset tentang rizobakteria yang telah digelutinya sejak tahun 2005, Prof. Aris berhasil menemukan PGPR yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara langsung maupun tidak langsung. Inovasinya ini berhasil meraih 103 Inovasi Indonesia Paling Prospektif tahun 2011.
 
“Pengaruh langsung yaitu pemacuan pertumbuhan tanaman oleh PGPR melalui penyediaan berbagai hormon pertumbuhan yang dihasilkan oleh rizobakteria maupun memfasilitasi pengambilan nutrien tertentu dari lingkungan. Sedangkan pengaruh tidak langsung melalui kemampuan PGPR dalam menghambat mikrob patogen tanaman termasuk fungi patogen seperti Fusarium oxysporum, Rhizoctonia solani, dan Sclerotium rolfsii,” ujarnya.
 
Menurutnya, lebih dari 80 persen rizobakteria tersebut mampu menghambat pertumbuhan fungi patogen akar F. oxysporum, R. solani, dan S. rolfsii in vitro. Yang menarik adalah, ternyata beberapa isolat Pseudomonas sp CRB dan Bacillus sp CR tersebut mampu menghambat lebih dari satu jenis fungi patogen akar. Rizobakteria tersebut sangat potensial dikembangkan dan digunakan sebagai biokontrol disamping pemacu tumbuh in planta. 
 
Selain itu, aplikasi formula inokulan konsorsium rizobakteria pada tanaman kedelai di rumah kaca pada kondisi masam dan kondisi netral menghasilkan peningkatan pemacuan pertumbuhan tanaman kedelai yang sangat signifikan. Rizobakteria yang digunakan disamping mampu memacu pertumbuhan tanaman juga mampu meningkatkan kolonisasi B. japonicum di rizosfer dan meningkatkan nodulasi pada kedelai (peningkatan jumlah bintil akar) oleh B. japonicum hampir dua kali lipat. 
 
Hal ini tentu akan sangat menentukan dalam memacu tumbuh tanaman dan produksi kedelai. Kaitannya dengan pengendalian penyakit pada kedelai yang disebabkan fungi patogen, konsorsium formula inokulan rizobakteria Pseudomonas sp.CRB, Bacillus sp. CR, dan B. japonicum BJ11 pada kondisi netral (pH sekitar 6.5) mampu menekan kejadian penyakit hingga 33.8 persen terhadap F. oxysporum, 11.3 persen terhadap S. rolfsii, dan 11.1 persen terhadap R. solani. Pada kondisi masam (pH sekitar 4.5) konsorsium rizobakteria tersebut mampu menekan kejadian penyakit hingga 66.7 persen  terhadap F. oxysporum, 22.2 persen terhadap S. rolfsii, dan 44.5 persen terhadap R. solani. Kemampuan penekanan terhadap penyakit tersebut mengindikasikan formula inokulan konsorsium rizobakteria pemacu tumbuh tersebut berpotensi sebagai biofungisida yang baik.
 
Teknologi yang dikembangkan ini untuk bentuk serbuk (powder) formula inokulan dapat disimpan selama 12 bulan, sedangkan formula bentuk granul dapat disimpan selama 6 bulan, baik pada suhu ruang maupun  pada suhu 4 derajat celcius.
 
Aplikasi paket pupuk inokulan rizobakteria serbuk kode M-Sr/NPK0.5 pada kondisi pH masam memberikan hasil terbaik yakni 1.54 ton per hektar, hal ini terjadi kenaikan sekitar 25 persen jika dibandingkan dengan pemberian pupuk NPK penuh (hasil 1.24 ton/Ha). Formula ini juga mampu menekan penggunaan pupuk NPK hingga 50 persen. Aplikasi paket inokulan bentuk  serbuk kode (N-Sr)/NPK0.5) pada kondisi pH netral mampu mencapai hasil panen kedelai sekitar 2.2 ton per hektar dengan pemberian NPK 0.5 dosis. Jika dibandingkan dengan kontrol (1.9 ton per hektar), hasil ini menunjukkan adanya peningkatan produksi kedelai sekitar 11 persen, dan mampu mereduksi penggunaan pupuk NPK hingga 50 persen.
 
Aplikasi formula inokulan rizobakteria bentuk granul pada lahan netral memberikan pengaruh lebih baik dibandingkan dengan pemberian NPK dosis penuh. Hal ini ditunjukkan pada aplikasi formula G (N-Sr)/NPK0.5) diikuti dengan pemberian pupuk NPK setengah dosis menghasilkan 1.88 ton per hektar. Formula inokulan konsorsium rizobakteria tersebut mampu meningkatkan produksi kedelai 10 persen dan juga mampu mereduksi penggunaan pupuk NPK hingga 50 persen. Pada kondisi pH asam aplikasi formula inokulan  bentuk  granul bila dikombinasi dengan pupuk NPK setengah dosis memberikan hasil panen yang sangat baik. Untuk aplikasi inokulan granul kode G (M-Sr/NPK0.5) hasil tertinggi adalah 1.041 ton per hektar, hal ini terdapat kenaikan produksi sekitar 40 persen dan menekan penggunaan pupuk NPK 50 persen jika dibandingkan dengan tanaman yang diberi pupuk NPK dosis penuh (hasil panen 0.745 ton per hektar). Formula yang dihasilkan menunjukkan keefektivannya dalam meningkatkan produksi kedelai. “PGPR juga efektif dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi jagung di lahan kering beririgasi,” tandasnya. (zul)