Lokakarya Pengembangan Program Internasional di IPB
Seiring dengan visi IPB untuk menjadi perguruan tinggi berkelas internasional, maka IPB harus melakukan proses internasionalisasi. Proses ini tak hanya berupa promosi dan pengembangan jejaring ke mitra di luar negeri, tapi yang lebih dulu perlu dilakukan adalah proses persiapan, penataan, dan internalisasi program internasional di dalam IPB sendiri. Yang masih perlu mendapatkan perhatian diantaranya adalah terkait pengembangan kurikulum, tata kelola, dan unit cost atau keuangan.
Menangkap kebutuhan tersebut maka IPB dalam hal ini Direktorat Kerjasama Program Internasional mengadakan Lokakarya Pengembangan Program Internasional di Bogor Life Science and Technology (BLST) IPB, Jalan Taman Kencana Bogor (25/11). Agenda ini ditujukan sebagai wrap up, sekaligus sosialisasi hasil seri lokakarya sebelumnya.
Sambutan sekaligus pembukaan acara disampaikan oleh Wakil Rektor bidang Riset dan Kerjasama IPB, Prof. Dr. Ir. Anas Miftah Fauzi, M.Eng, “Memberikan arahan pengembangan program internasional IPB, yang mana secara umum dapat dikelompokkan menjadi kelas internasional, joint/double degree, credit earning, dan summer course. Program studi terutama yang telah memiliki akreditasi internasional juga didorong oleh IPB untuk segera mengembangkan berbagai program internasional.”
“Terlepas dari tipe program internasional yang dikembangkan, program tersebut harus disusun berbasis kompetensi atau learning outcome. Lokakarya juga telah menyepakati tata kelola untuk setiap tipe program internasional yang selanjutnya perlu disahkan sebagai acuan penyelenggaraan program internasional di IPB,” lanjutnya.
Sementara Kasubdit Program Internasional, Direktorat Kerjasama dan Program Internasional IPB, Dr. Eko Heri Purnomo menjelaskan, “Internasionalisasi IPB juga tidak terlepas dari reputasi IPB. Hal ini dapat dibangun melalui berbagai capaian dan prestasi semua sivitas akademika IPB. Dalam rangka mendukung capaian prestasi serta mendorong proses internasionalisasi, maka IPB perlu didukung dengan fasilitas yang memadai, sumberdaya manusia yang handal, tata kelola yang prima, dan mutu akademik berkualitas internasional,” imbuhnya.
Proses internasionalisasi IPB telah dicanangkan dan telah berproses dengan baik. Akan tetapi, tetap harus dipahami bahwa proses ini punya tantangan. Dari berbagai diskusi dan pengalaman selama ini, ada beberapa aspek dalam program internasionalisasi yang masih perlu diperhatikan, diantaranya terkait pengembangan kurikulum, tata kelola, dan unit cost atau keuangan.
Sebelumnya Direktorat Kerjasama dan Program Internasional telah menyelenggarakan sebuah seri lokakarya terkait ketiga hal tersebut selama bulan Oktober 2014. Seri lokakarya ini dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan di dalam setiap aspek pengembangan program internasional. Hal ini untuk memastikan bahwa hasil yang diperoleh telah mempertimbangkan masukan dan pemikiran semua pemangku kepentingan. Oleh karena itu, tata kelola hendaknya disusun untuk memastikan penanggung jawab setiap tahapan proses pendidikan dan memastikan mahasiswa tertangani dengan baik.
Kemudian, dari sisi keuangan. Unit cost mahasiswa internasional seyogyanya disusun dengan prinsip bahwa mahasiswa internasional tidak berhak mendapatkan subsidi biaya pendidikan. Besaran biaya mahasiswa internasional adalah biaya kuliah tunggal ditambah dengan biaya pengembangan dan fasilitas. Oleh karena itu, IPB juga perlu segera mengesahkan besaran biaya perkuliahan mahasiswa asing dan pengaturan pengelolaannya di IPB. (Eko/awl)
