Studium General FKH IPB Angkatan 50

Studium General FKH IPB Angkatan 50

IMG_5166
Berita

Studium General FKH IPB Angkatan 50 (12/10) mengangkat tema Peran Mahasiswa Kedokteran Hewan dalam Penyuksesan Swasembada Susu 2020. Studium general ini menghadirkan sejumlah narasumber ahli susu. Dalam dua sesi, yang pertama dengan narasumber drh. Kurnia Achyadi, M.S, dosen FKH bagian Laboratorium Reproduksi Departemen KRP, dan moderator Haniffah Arif Muqadam (FKH 48). Sesi kedua, hadir sebagai narasumber drh. Muhammad Dwi Satrio (Pengusaha bahan olahan susu), drh. Asep Rahmat Chaerudin (Pengelola Koperasi Susu Pangalengan  Bandung Selatan (KPBS) ), dan drh. Deddy F Kurniawan (Ahli Susu dan Penyuluh Susu ke Masyarakat), serta moderator Rizal Eko Kurniawan (FKH 47).

Studium general ini rutin diadakan setahun sekali dalam rangkaian kegiatan Intravena FKH. Tahun ini adalah kesempatan mahasiswa FKH angkatan 50 bertugas sebagai panitia dalam Studium General, dengan ketua pelaksananya Seftian Syahri Putra (FKH 50). Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 400 mahasiswa dan beberapa dosen yang menyampaikan sambutan, diantaranya Wakil Dekan FKH IPB, drh. Agus Setiyono, M.S, Ph.D, AP.Vet dan kemahasiswaan FKH IPB drh. Andriyanto, M.Si.

drh. Kurnia Achyadi, M.S sebagai pemateri pertama, membahas Strategi Peningkatan Jumlah Sapi Perah dan Produksi Susu. "Perkembangan susu mengalami kemajuan pesat  tahun 1980-1990. Ini sebagai bentuk kerja keras pemerintah. Namun kemudian mengalami kemunduran pada tahun 1990- 2000 karena pengaruh perekonomian. Oleh karena itu dicanangkan kembali swasembada susu pada tahun 2020 dengan latar belakang agar pemerintah memiliki waktu dalam persiapan dalam swasembada susu," papar drh. Kurnia.

"Berdasarkan data, keadaan genetik sapi masih memiliki kelemahan. Pakan juga masih memiliki  kelemahan karena tidak cocok dengan keadaan geografi. Sejatinya, pemerintah memiliki peran yang dominan dalam peningkatan sapi. Karenanya, Indonesia memiliki tantangan tersendiri dalam swasembada susu. Indonesia perlu melakukan recording karena selama ini belum ada recording terhadap sapi perah. Sektor recording ini masih perlu diperhatikan. Recording di Indonesia masih sistem parsial sehingga hasilnya kurang optimal," lanjutnya.

Sesi kedua adalah Talkshow dengan tiga narasumber. Narasumber pertama, drh. Muhammad Dwi Satrio, seorang pengusaha bahan olahan susu, memaparkan tentang Perkembangan Sapi Perah di Indonesia.

"Perkembangan sapi perah dimulai pada zaman penjajahan, namun produknya masih terbatas pada susu bubuk dan susu kental manis. Eropa, Amerika, Australia peminum susu. Dalam suatu penelitian terbukti IQ dari pemain bola negara-negara maju memiliki score yang tinggi. Ternyata setelah diperiksa, ada hubungannya dengan kebiasaan mereka minum susu," ungkap drh. Muhammad.

"Survei tahun 2011 tentang sapi perah 597 ribu ekor, 99% ada di pulau Jawa, 1% di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi. Di Indonesia terdapat sekitar 120 ribu keluarga peternak sapi perah. Artinya Indonesia hanya mampu memenuhi sekitar 18% dari kebutuhan konsumsi susu. Sapi laktasi adalah sapi yang produktif menghasilkan susu setelah melahirkan. Kualitas susu dipengararuhi oleh SDM, pakan ternak yang akan mempengaruhi total solid, serta pendinginan susu. Macam produk olahan susu antara lain yogurt, kefir, dan lain sebagainya," lanjutnya.

Narasumber kedua adalah drh. Asep Rahmat Chaerudin, pengelola koperasi susu KPBS, Bandung Selatan. "Peran KPBS selain dalam pengalengan susu sapi perah, juga untuk menggerakkan masyarakat dan memajukan perternakan Indonesia. Saya lulus tahun 1992, lalu bekerja di pengalengan hingga sekarang. Pengalengan sangat cocok untuk sapi perah," jelasnya.

Narasumber ketiga adalah drh. Deddy Kurniawan, seorang ahli susu dan penyuluh usaha susu. "Jumlah sapi di Indonesia 2002-2017 meningkat sehingga produktivitas juga naik. Sayangnya, susu di Indonesia masih impor. Pengolahannya juga masih dominan hanya menjadi susu bubuk dan susu kental manis. Padahal, di negara maju, susu merupakan parameter kesejahteraan," terangnya.

"Untuk menjadi pengusaha perlu tiga hal, yaitu you have to be the first, you have to be different, and you have to be the best one. Perlu langkah konkret dalam melaksanakan swasembada susu. Jangan menjadi penonton, tetapi jadilah agen perubahan," pungkasnya.