PERHEPI Pre Conference Workshop: Socio-Economic Consideration On Agricultural Biotechnology
Masyarakat Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) menggelar pre conference workshop bertajuk Socio-Economic Consideration on Agricultural Biotechnology. Acara digelar di Ruang Mahoni MB- IPB Bogor (27/8).
PERHEPI merupakan tempat atau wahana berhimpunnya segenap peminat ekonomi pertanian, sekaligus forum diskusi. Hal-hal yang dibahas diantaranya pengembangan ilmu, serta isu-isu penting dan mendasar dalam pembangunan ekonomi pertanian bangsa seperti kemiskinan, pembangunan sumberdaya dan wilayah, hingga dinamika pertanian dalam globalisasi.
Dalam pre conference ini, hadir narasumber pakar yang juga tergabung dalam PERHEPI yaitu prof. Bustanul Arifin, Agus Pakpahan dan Leo Gonzales, Chairman of Board of Trustees of SIKAP.
Bustanul Arifin dalam penjelasannya menyampaikan dukungannya untuk mengembangkan bioteknologi pertanian. Tidak hanya itu ia menyampaikan agar pemerintah meningkatkan anggaran riset dan pengembangan sedikitnya 1 persen dari GDP. Disampaikannya, sekarang dana Research and Development (R & D) dari total PDB adalah kurang dari 0,1 persen, atau 7 kali dan 14 kali lebih rendah dibandingkan di Malaysia dan China.
Lebih lanjut dikatakannya, pada masa pemerintahan Soekarno (1945-1966), Soeharto 1 (1966-1985), Soeharto 11 plus dan SBY (2004 – sekarang), perkembangan pertanian Indonesia berjalan lambat per sepuluh hingga lima belas tahun. Dari tiga periode kepemimpinan presiden tersebut, pertumbuhannya paling tinggi hanya sampai 6 persen, yaitu pada periode Soeharto 1.
Disampaikannya pula, bahwa kompleksitas masalah pertanian Indonesia saat ini dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan sektor pertanian yang hanya mencapai 3,4 persen. Hal ini sama sekali tidak memadai untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu mayoritas petani tanaman pangan adalah petani kecil yang masih kurang inovatif dalam teknologi produksi.
Sejak tahun 1990, tingkat pertumbuhan yang tinggi dari sektor pertanian tidak berkelanjutan karena alasan kebijakan lingkungan yang tidak kondusif, investasi rendah di R & D, lambatnya kemajuan dalam perubahan teknologi, serta adanya penurunan investasi publik secara signifikan dari 0,76 di tahun 1984 menjadi 0,39 pada tahun 2000. Angka tersebut dihitung dari porsi pengeluaran untuk pertanian dibandingkan dengan pangsa PDB pertanian terhadap PDB nasional.
Calon menteri pertanian versi pilihan publik pada salah satu media merekomendasikan pengembangan sistem inovasi dan perubahan teknologi untuk memperbaiki produktivitas dan efisiensi di bidang pertanian. Juga pembangunan kapasitas riset dan pengembangan. "Ciptakan strategi untuk pembangunan desa dan penciptaan lapangan kerja. Selain itu, penting untuk memberdayakan jaringan inovasi pangan yang melibatkan perguruan tinggi, pengusaha, pemerintah dan stakeholders,” ungkapnya.
Setelah pre conference, acara konferensi digelar pada 28 Agustus 2014. Rencananya, akan dibuka oleh ketua umum PERHEPI yang juga Wakil Menteri Perdagangan RI, Dr.Bayu Krisnamurti di IPB International Convention Center, Bogor.
