Mahasiswa Jepang Belajar Budaya Masyarakat Indonesia
Mahasiswa Indonesia dan Jepang dari perguruan tinggi yang tergabung dalam Six Universities Initiative Japan Indonesia (SUIJI) mengikuti kegiatan Service Learning Program (SLP) di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), Februari-Maret 2014. Enam perguruan tinggi tersebut antara lain: Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Hasanudin (Unhas), Ehime University, Kochi University dan Kagawa University.
Wakil Kepala Bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (LPPM-IPB), Dr. Hartoyo mengatakan, kerjasama yang tergabung dalam konsorsium SUIJI ini merupakan kelanjutan dari kegiatan September 2013 silam di Jepang.
“Pada bulan September 2013 silam, mahasiswa Indonesia diundang ke Jepang sebanyak 50 orang dari tiga universitas Indonesia. Mereka belajar langsung dan berinteraksi dengan masyarakat Jepang mengenai banyak hal seperti cara mendengar dari masyarakat, cara melihat apa saja yang dilakukan warga Jepang, cara berempati diantara warga Jepang, dan mempelajari kondisi kehidupan masyarakat Jepang secara langsung, “ tandas Dr. Hartoyo. Untuk kegiatan di Indonesia, 21 mahasiswa Jepang yang turut dalam kegiatan ini dibawa berkunjung ke desa/kelurahan di wilayah Bogor diantaranya Kelurahan Situ Gede, Desa Cikarawang, DesaTegal Karang Mulya, Desa Sumiarsih dan Desa Tuwel.
Kegiatan dan aktivitas di fokuskan pada aspek lingkungan desa/kelurahan. Para mahasiswa ini mengamati pola kehidupan masyarakat desa/kelurahan di Indonesia. Saat pagi-pagi melihat kebiasaan ibu-ibu mencuci di sungai, para mahasiswa Jepang ini dengan semangat turut membantu turun ke sungai mencuci baju. Para mahasiswa ini merasa aneh, mengapa orang Indonesia mencuci baju di sungai? Mereka juga terkejut ketika melihat warga membuang sampah ke sungai. “Kenapa tidak dibuang ke tempat sampah?” tanya mereka heran.
Dari hasil pengamatan tersebut, mereka kemudian menindaklanjuti dengan mencoba memberikan penyuluhan. Mereka mengumpulkan warga sekitar di rumah Rukun Tetangga (RT) atau di kantor desa setempat. Menyikapi kondisi ini, Dr. Hartoyo mengatakan, “Kebiasaan warga Indonesia kalau yang memberikan penyuluhan itu orang luar negeri biasanya warga semangat datang. Warga pun lebih terbuka menerima saran-saran.”
Para mahasiwa Jepang ini tinggal di rumah-rumah warga sekitar agar lebih mengenal secara langsung kegiatan yang dilakukan warga setempat. Mereka pun terlibat dalam kegiatan sehari-hari seperti mencuci, memasak, membersihkan halaman dan sebagainya. “Kerjasama konsorsium SUIJI ini akan terus berjalan. Ke depannya akan ditingkatkan lagi dan dikembangkan dengan lebih baik. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia. Tahun depan diharapkan lebih maksimal,” tandas Dr. Hartoyo (wal)
