Bantuan Pemerintah Diperlukan untuk Meningkatkan Dayasaing Peneliti Bioteknologi
Di dunia, penerapan rekayasa genetika sudah diaplikasikan di berbagai penelitian tanaman pertanian. Walau belum semua pihak menerima hasil tanaman rekayasa genetika, namun beberapa perusahaan multinasional telah menjual produk-produk tersebut ke pasar. "Bagaimana pun penerimaan masyarakat terhadap produk-produk rekayasa genetika, secara signifikan rekayasa genetika atau metode bioteknologi lainnya telah mampu berkontribusi dalam mewujudkan ketahanan pangan dunia," kata Peneliti Donald Danfort Plant Science Research Center, St.Louis USA, Dr.Roger N.Beachy.
Sementara itu, Kepala SEAMEO BIOTROP IPB, Dr. Bambang Purwantara mengatakan para peneliti Indonesia mengalami kendala untuk mengaplikasikan hasil penelitian bioteknologinya ke masyarakat. "Kondisi ini terjadi karena iklim riset di negara kita belum kondusif. Peneliti di lembaga penelitian nasional masih kalah bersaing dengan peneliti di perusahaan di multinasional seperti di Monsanto atau Syngenta. Oleh karena itu, bantuan pemerintah sangat diperlukan untuk menyeimbangkan produktivitas peneliti di lembaga penelitian nasional. Salah satunya dengan pemberdayaan peneliti untuk membantu memecahkan berbagai persoalan produktivitas khususnya tanaman pangan di BUMN," jelas Dr. Bambang di tengah acara Temu Pakar Bioteknologi 2012 yang diselenggarakan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Dalam kesempatan itu dipresentasikan riset terkini tanaman hasil rekayasa genetika di Indonesia diantaranya: penelitian rekayasa genetika dalam disertasi mahasiswa Pascasarjana di IPB yang disampaikan Guru Besar Bioteknologi IPB, Prof.Sudarsono, tanaman tebu hasil rekayasa genetika II oleh Pakar Bioteknologi IPB, Dr.Dwi Andreas, tanaman kentang oleh Peneliti Balai Besar Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Dr.M.Herman, dan tanaman padi oleh Peneliti Lembaga Penelitian Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr.Satya Nugraha. Hadir pula dalam kegiatan tersebut Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama IPB, Prof. Dr. Ir. Anas Miftah Fauzi dan Wakil Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Bidang Tanaman Kementerian Pertanian RI, Dr.Hasmi Sembiring. (ris)
