Harga Susu Masih Lebih Murah Dibanding Rokok
Peringatan Hari Susu Nusantara di Fakultas Perternakan IPB, Rabu (6/6) di Aula James Humuntal Hutasoit Kampus IPB Dramaga, juga diikuti ratusan ibu dari desa-desa lingkar kampus. Nurhayati Samsiah (40) misalnya, ibu empat anak dari Desa Sinarsari ini mengaku antusias dengan kegiatan ini.
Meski diakuinya ia tidak suka susu, tetapi ia selalu berusaha menyediakan susu bagi keempat anaknya. Hanya saja katanya, selama ini ia baru bisa memberikan susu kental manis. Sementara, pada seminar yang ia ikuti tersebut, susu yang ternyata baik dikonsumsi adalah susu segar.
“Di tempat saya dimana atuh beli susu segar, soalnya tidak ada yang jualan. Susu kental manis saja harga sekalengnya sudah mahal, hampir sembilan ribu rupiah, apalagi susu segar, pasti mahal harganya,” ujar Nurhayati yang diiyakan rekan se-desanya, Nuraya (44).
Sebelumnya, Direktur Pengolahan Pangan Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian RI, Ir Nazaruddin, MM., mengatakan bahwa masyarakat kita masih menganggap susu sebagai barang mewah, sehingga dianggap mahal. Padahal, terangnya, harga satu liter susu segar masih di bawah harga sebungkus rokok yang biasa dikonsumsi para bapak.
Mengenai penyediaan susu segar, diakui Nazaruddin, negara kita masih menghadapi beberapa kendala, baik kualitas maupun kuantitas. “Sampai saat ini produksi susu segar dalam negeri belum bisa memenuhi kebutuhan secara nasional. Petani kita baru bisa memasok 26 persen dari permintaan nasional. Sisanya, atau 74 persen masih impor. Semoga dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi susu segar, akan meningkatkan pula pengembangan agro industri pengolahan susu. Dengan demikian, ke depan kita bisa mencapai swasembada susu,” kata Nazaruddin. (nm)
