Pemanfaatan Sistem TPTII untuk Mendukung REDD

Pemanfaatan Sistem TPTII untuk Mendukung REDD

Berita

Setiap tahun emisi gas rumah kaca cenderung meningkat. Sumber emisi dunia berasal dari emisi energi (65 %) dan non energi (35%). Dalam rangka mengurangi efek rumah kaca, Indonesia telah membuat beberapa Demonstration Activities (DA) penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD). Salah satu teknik pengelolaan untuk mendukung REDD adalah sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII). Prinsip dasar sistem ini adalah penanaman secara intensif   melalui jalur tanam pada areal bekas tebangan. Demikian papar Mahasiswa S3 Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Gusti Hardiansyah dalam Sidang Terbukanya berjudul ‘ Potensi Pemanfaatan Sistem TPTII untuk Mendukung Upaya Penurunan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (Studi Kasus Areal IUPHHK PT.Sari Bumi Kusuma di Kalimantan Tengah’, Jum’at (16/9). 

“Penerapan sistem TPTII dilakukan setelah memahami budaya setempat. Kegiatan TPTII ini diharapkan menekan laju deforestasi dan degradasi hutan, memberikan manfaat ekonomi masyarakat dan memberikan perlindungan ekologis kawasan hutan,” lanjut Gusti.

Kasus PT.Sari Bumi Kusuma dipilih karena perusahaan ini merupakan salah satu pioner dalam mengembangkan TPTII sejak 1999. Kegiatan penanaman areal bekas tebangan diduga berdampak positif dalam mencegah laju deforestasi serta mengurangi laju degradasi kawasan hutan dalam jangka panjang. “Untuk mengetahui sejauh mana efektivitas sistem TPTII dalam mencegah deforestasi dan mengurangi degradasi hutan  sehingga dapat mengurangi peningkatan gas rumah kaca di atmosfer, perlu dilakukan penelitian secara komprehensif, terutama mengenai potensi pemanfaatan sistem TPTII dalam mendukung kegiatan REDD. Itulah dasar penelitian saya,” ungkap  Gusti. Penelitian Gusti di bawah komisi pembimbing yang terdiri dari Prof. Rizaldi Boer, Prof.Cecep Kusmana, dan Prof.Dudung Darusman.

Hasil penelitian Gusti menunjukkan pelaksanaan TPTII dan pembinaan masyarakat yang telah dilakukan IUPHHK PT.Sari Bumi Kusuma selama ini mampu menekan laju perladangan berpindah ke dalam kawasan hutan. “Namun demikian analisis jangka panjang dengan proyeksi 50 tahun ke depan terlihat laju perladangan berpotensi merambah areal TPTII. Oleh karena itu, untuk menekan laju perladangan perlu dikembangkan alternatif peningkatan pembangunan TPTII dan pembinaan masyarakat yang terpadu dan simultan,” ujar Gusti. (ris)