Biopelet, Alternatif Pemanfaatan Biomassa

Biopelet, Alternatif Pemanfaatan Biomassa

Berita

Biopelet adalah jenis bahan bakar padat berbasis limbah biomassa yang memiliki ukuran lebih kecil dari briket. “Proses yang digunakan adalah pengempaan dengan suhu dan tekanan tinggi,sehingga membentuk produk yang seragam dengan kapasitas produksi tinggi,” ungkap Peneliti Surfactant & Bioenergy Research Center, Institut Pertanian Bogor (SBRC- IPB), Sri Windarwati dalam acara Seminar Nasional Teknologi Kimia Aplikatif, Minggu (18/9) di Bogor. Acara yang bertajuk ‘Bahan Bakar Nabati Atasi Kelangkaan Minyak Bumi’diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Kimia (IMAKAHI) IPB  ini dihadiri lebih dari 400 peserta.

Potensi biomassa atau limbah pertanian  Indonesia sangat bes ar yakni 49,8 ribu Mwe dan yang dimanfaatkan baru 445 Mwe. Biomassa yang dapat digunakan sebagai  bahan baku biopelet diantaranya: bungkil sawit, sekam padi, batang ubi kayu, tongkol jagung, tempurung kelapa, kulit kacang, kulit kopi dan sebagainya. “Teknologi biopelet sudah diperkenalkan sejak lama di luar negeri. Pembuatan biopelet diproduksi pertama kali di Swedia pada tahun 80-an.  Seiring waktu, dikembangkan perusahaan biopelet di sana. Sedangkan teknologi ini baru dikembangkan di Indonesia,” kata Sri.

Menurut Staf Ahli Kementerian Negara Riset dan Teknologi RI, Dr.Agus Rusiana Hotman, jumlah produksi minyak bumi terbatas, sementara tiap tahun konsumsinya meningkat 7 persen. “Strategi pengembangan energi nasional  ke depan dengan meningkatkan kegiatan diversifikasi energi, diantaranya memanfaatkan potensi sumber biomassa,” ujar Dr.Agus. Tantangan  pengembangan bahan bakar nabati masih belum kompetitif dibanding dengan bahan bakar minyak (BBM), dikarenakan masih adanya subsidi BBM. Kemungkinan solusinya adalah meningkatkan efisiensi dalam proses pembuatan BBN sambil menata kebijakan “pricing” dan subsidi yang lebih tepat sasaran. (ris)