Asyiknya Berburu Kandidat Vaksin

Asyiknya Berburu Kandidat Vaksin

Berita

Dokter hewan, profesi yang satu ini mungkin tak banyak dilirik orang.  Jika dibanding dengan dokter manusia, mungkin profesi sebagai dokter manusia lebih populer dan terkesan “wah”.  Tapi tunggu dulu!   Menyaksikan apa yang dilakukan Rahmat Hidayat, Usamah Afif, Titiek Sunartatie, dan Fachriyan Hasmi Pasaribu; empat dokter hewan peneliti vaksin di Bagian Mikrobiologi Medik Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) mungkin akan membuat kita berdecak.  Betapa tidak, para dokter hewan peneliti ini dikenal gigih dalam melakukan perburuan untuk mencari kandidat vaksin. 

Kita tahu vaksin merupakan bentuk pemanfaatan bibit penyakit (setelah dilemahkan ataupun dimatikan) yang dimasukkan ke dalam tubuh dengan tujuan agar tubuh mampu meresponnya dalam bentuk  imunitas (kekebalan).  Salah satu vaksin yang tengah diburu empat ”pendekar” vaksin ini adalah Brucella. Mungkin Anda pernah mendengar penyakit Brucellosis?  Brucellosis adalah penyakit hewan menular yang secara primer menyerang sapi, kambing, babi dan sekunder pada berbagai hewan lainnya serta manusia. Brucellosis pada sapi di Indonesia telah menyebar di 26 provinsi dengan kerugian ekonomi mencapai Rp 138,5 milyar/tahun, akibat keguguran, kematian pedet, sterilitas dan infertilitas serta penurunan produksi dan kualitas susu.

Sumber penularan yang potensial dari hewan ke manusia adalah sapi. Pada sapi perah susu sapi dapat menularkan penyakit pada manusia jika tidak mengalami pasteurisasi. Membran fetus dan cairan dari saluran reproduksi merupakan sumber yang dapat menularkan penyakit kepada manusia secara kontak langsung.  Brucella sp. dapat menembus kulit, konjungtiva dan saluran pencernaan. Pada sapi penularannya terjadi per oral. Sapi yang mengalami keguguran oleh brucellosis mengeluarkan bakteri B. abortus dalam jumlah besar melalui membran fetus, cairan reproduksi, urine dan feses. Bahan-bahan tersebut akan mencemari rumput dan air minum. 

Tekad untuk mendapatkan kandidat vaksin Brucella, membuat Rahmat Hidayat dan timnya serasa tak lelah melakukan penelitian demi penelitian. Tujuan mereka adalah menemukan vaksin Brucella isolat lokal untuk pengendalian Brucellosis di Indonesia. Serangkaian tahapan dilakukan diantaranya kegiatan isolasi dan karakterisasi isolat lokal B. abortus sebagai calon vaksin, karakterisasi sifat antigenisitas dan patogenisitas B. abortus isolat lokal untuk penentuan isolat calon vaksin hingga pengembangan vaksin Brucella dari isolat lapang terpilih.

Jenis vaksin  yang selama ini digunakan untuk pengendalian brucellosis adalah vaksin aktif B. abortus strain 19 (S19) dan strain 51 (RB51). Sayangnya, masing-masing vaksin tersebut memiliki beberapa keterbatasan. Sebagai contoh, vaksin S19 menyebabkan terjadinya titer antibodi persisten pada sapi yang divaksin sehingga sulit dibedakan dengan infeksi alam (hasil uji positif palsu), dapat menyebabkan keguguran dan vaksin strain dapat diekskresikan melalui susu.  Selain itu vaksin S19 dapat menginfeksi manusia.  Contoh lainnya adalah penggunaan vaksin RB 51.  Vaksin ini mulai digunakan tahun 1996 di beberapa negara. Namun keamanan dan efisiensi vaksin RB 51 masih menjadi kontroversi.  Bila diberikan pada sapi bunting dapat menyebabkan plasentitis dan keguguran serta vaksin strain dapat diekskresikan melalui susu.  Vaksin ini juga dapat menginfeksi manusia. Dari sisi ekonomi, harga vaksin ini relatif mahal, dan kita pun masih impor. 

Fakta tersebut mengusik rasa keprihatinan Rahmat Hidayat dan timnya. Mereka kemudian bertekad untuk mengembangkan jenis vaksin alternatif yang lebih aman, efektif, dan dengan harga yang lebih terjangkau.  Dari serangkaian penelitian yang dilakukan Rahmat Hidayat dan timnya sejauh ini telah didapat delapan  isolat yang berdasarkan karakterisasi fisiologis/biokimia mengarah ke B. abortus.  Enam dari delapan isolat yang berhasil diperoleh, dengan uji-uji yang dilakukan menunjukkan karakteristik yang berbeda dengan B. abortus vaksin strain (S19 dan RB 51) dan dinyatakan sebagai isolat calon kandidat vaksin  Sedangkan dua isolat menunjukkan sifat yang hampir sama dengan strain S19.

Perjuangan yang dilakukan Rahmat Hidayat dan timnya tentu tak berhenti sampai di sini. Ke depan, pekerjaan sudah menanti yaitu riset lanjutan sampai dapat diproduksi vaksin brucellosis isolat lokal berbagai cara produksi dan tipe serta bekerjasama dengan peneliti dari lembaga lain. Harapannya vaksin isolat lokal dapat mengurangi ketergantungan impor vaksin (hemat devisa), mendukung program swasembada daging dan pada gilirannya mensejahterakan masyarakat peternak Indonesia. (nUr)