PSW IPB GELAR WORKSHOP INDUSTRI RUMAHAN

PSW IPB GELAR WORKSHOP INDUSTRI RUMAHAN

Berita

Para perempuan pengusaha industri rumahan dari desa-desa lingkar kampus IPB Darmaga, mengikuti workshop yang diselenggarakan Divisi Program Studi Wanita (PSW) PSP3 LPPM IPB di Hotel Salak Bogor, Senin (11/4). Workshop bertajuk “Pengembangan Usaha Industri Rumahan : Dari Perspektif Perempuan Pengusaha Industri Rumahan” ini hasil kerjasama PSW IPB dengan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) RI.

Hadir diantaranya Ibu Resni pengusaha manisan pala dari Desa Dramaga, Ibu Onasih pengusaha keripik dari Desa Neglasari, Ibu Norma pengusaha tepung ubi dari Desa Cikarawang, dan Ibu Momoy pengusaha kue basah dari Desa Benteng.

Ketua Divisi PSW IPB, Dr. Titik Sumarti dalam kata pengantarnya mengatakan, pelaku usaha entrepreneur di Indonesia di bawah dua persen dari total penduduk, sedangkan pelaku usaha perempuan masih di bawah 0,1 persen.

“Usaha yang dikelola oleh perempuan mewakili 60 persen dari sekitar 30 juta UMKM di Indonesia. UMKM, khususnya usaha mikro dapat menjadi pintu masuk perempuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi Indonesia,” papar Dr. Titik.

Lebih lanjut Dr. Titik mengungkap studi kasus perempuan pengusaha industri rumahan di Kabupaten Bogor yang menjadi isue, yaitu usaha pemula yang masih labil, sering berganti-ganti usaha, biasanya di kalangan keluarga lapisan bawah.

Isue kedua adalah usaha sederhana yang relatif mulai stabil, biasanya usaha ini sudah berbentuk tetapi tidak punya modal untuk berkembang. Usaha tersebut memiliki keuntungan sedikit, tetapi hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara isue terakhir adalah usaha mikro yang sudah terbentuk, mulai maju dan berkembang.

Dari ketiga isue di atas, isue gender senantiasa berada di permukaan,  dimana perempuan pengusaha di semua tingkatan tetap memiliki beban kerja ganda, yakni  tetap mengurus rumah tangga.

Di tempat yang sama, Ir. Melly Latifah, M.Si., mengurai kajian psikososial perempuan pengusaha industri rumahan. Kajian tersebut didasarkan pada karakteristik sosio-demografi subyek penelitian, karakteristik psikososial subyek penelitian, karakteristik psikososial berdasarkan kelompok usia, tingkat pendidikan dan besar keluarga, karakteristik psikososial berdasarkan jenis usaha, serta karakteristik psikososial berdasarkan tingkat perkembangan usaha.

Sebelumnya, Dr. Surikanti dari KPP-PA menjelaskan kajian awal yang menyebut perempuan lebih banyak yang bekerja pada industri rumahan dibanding laki-laki. Karena itu, terangnya, menjadi prioritas KPP-PA untuk melakukan perlindungan terhadap industri rumahan.

“Kerjasama dengan IPB ini, dalam rangka memperoleh masukan dari hasil-hasil penelitian yang dilakukan secara mendalam. Dengan demikian, kebijakan yang dimunculkan diharapkan berdampak pada para pekerja industri rumahan,” ujar Dr. Surikanti. (nm)