Prof. Purwiyatno Hariyadi : Mie Instan Produk Indonesia Aman Untuk Dikonsumsi
Produk mie instan made in Indonesia yang peredarannya dilarang di negara Taiwan, sesungguhnya berawal dari perbedaan standar keamanan pangan di tiap negara. Kandungan bahan pengawet E218 (Methyl P-Hydroxybenzoate) dengan merk dagang Nipagin yang ada dalam bumbu kecap di tiap kemasan Indomie, bagi Taiwan harus nol. Nipagin adalah suatu senyawa ester yang mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme, seperti kapang dan bakteri.
Penggunaan Nipagin dalam bahan pangan menurut Badan Keamanan Pangan Eropa atau EFSO, aman untuk dipakai dengan batas aman 1000 miligram per kilogram produk. Begitu pula standar CODEX, batas aman penggunaan nipagin adalah 1000 miligram per kilogram produk. Hongkong 450 miligram, Brunei 250 gram, Taiwan 0 (nol). Indonesia melalui BPOM termasuk yang ketat dalam penggunaan senyawa ini, yaitu hanya 250 miligram per kilogram produk.
“Rekomendasi keamanan nipagin dalam bahan pangan sudah melalui kajian otoritas pangan dunia, seperti EFSA dan CODEX, lembaga yang kompeten dan sangat hati-hati. Nipagin digunakan dengan pertimbangan keamanan pangan dan manfaatnya. Aman saja tanpa memberi manfaat, biasanya diabaikan dan kembali mencari senyawa lain yang memenuhi kedua syarat itu,” papar Pakar Pangan IPB Prof.Dr.Ir. Purwiyatno Hariyadi yang juga Kepala Pusat Pengembangan ILTEK Pertanian dan Pangan Asia Tenggara (SEAFAST Center) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB.
Dengan demikian, mengacu pada otoritas keamanan pangan dunia tadi, Nipagin aman untuk dikonsumsi. Tentu saja selama mengikuti asupan harian yang diperbolehkan, yakni 10 miligram per kilogram berat badan.
Prof. Purwiyatno mencontohkan, jika seorang anak degan berat badan 30 kilogram, maka asupan harian yang diperbolehkan adalah 300 miligram Nipagin per hari. Sementara kandungan Nipagin dalam satu bungkus kecap yang beratnya 3 sampai 4 gram, maksimum hanyalah sekitar 1 miligram saja. “Setelah menyantap mie 300 bungkus,barulah mencapai batas maksimal yang diperbolehkan. Namun demikian, jika angka yang dikonsumsi sudah cukup fantastis, maka akan berakibat pada kerja organ tubuh terutama hati dalam mendeteksi senyawa ini,” ujar Prof. Purwiyatno.
Lebih lanjut Prof. Purwiyatno menjelaskan, kecuali ASI atau air susu ibu, tidak ada satu jenis makanan pun yang sempurna yang dapat memenuhi kebutuhan gizi. Karena itu kita harus bisa menyusun menu yang sehat dan beragam, mengandung karbohidrat, protein, sumber lemak, dan sumber vitamin dan mineral, yang biasanya diperoleh dari nasi, daging, sayur dan buah. “Konsumsilah mie instan sebagai salah satu keanekaragaman pangan yang kita susun sebagai menu sehat,” pungkas Prof. Purwiyatno. (nm)
