Sukseskan Bogor Sebagai KTR

Sukseskan Bogor Sebagai KTR

Berita

Indonesia meraih urutan ketiga dunia setelah China dan India dalam hal negara yang rakyatnya paling banyak merokok. Kondisi ini mendorong Ir. Hangesti Emiwidyasari, M.Si, Ketua Tim Geulis IPB untuk mensosialisasikan bahaya merokok baik bagi perokok itu sendiri maupun bagi orang lain.

Sasarannya adalah membebaskan wanita dan anak-anak dari asap rokok. Menurutnya, perempuan adalah penerus generasi sehingga paling beresiko mengalami regenerasi, resiko keguguran, Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), Kanker dan beberapa penyakit lain yang secara tidak sadar ditimbulkan karena rokok (baik sebagai perokok aktif maupun perokok pasif).

“Secara tidak sadar kita menjadi perokok pasif, baik di rumah, sekolah, masjid, rumah sakit, tempat kerja dan lalin-lain. Oleh karenanya perokok pasif harus menyadari bahwa mereka juga berada dalam bahaya,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam Dialog Sore di RRI Bogor (20/7)
Menimbulkan keberanian untuk melarang orang merokok di kawasan umum bukan hal yang mudah. Hangesti memberikan trik-triknya, pertama  perokok diberitahu kalau itu berbahaya, kedua sampaikan bahwa kita juga punya hak untuk menghirup udara yang lebih baik, dari sana kemudian terus tingkatkan kepercayaan dengan bahasa yang manis dan sopan. “Jika orangnya mengerti, pasti langsung dimatikan meski ada juga yang bandel,” tambahnya.
Niat baik dari pemerintah demi menyelamatkan masyarakat dari bahaya rokok perlu didukung semua pihak. Pemerintah kota Bogor sudah menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Harapannya KTR mampu mengerem konsumsi rokok di Bogor.

“Sebenarnya berhenti merokok tidak susah, tergantung niatnya mau berhenti atau tidak. Contohnya di bulan Ramadhan, orang bisa mengurangi konsumsi rokoknya dari 4 bungkus menjadi 2 bungkus per hari. Kita bisa mengambil hikmahnya dari bulan Ramadhan ini,” ujar Hangesti.
Selain itu, peran keluarga juga sangat penting karena menurutnya dorongan untuk berhenti merokok lebih kuat jika keluarga yang menyarankan. Sementara itu, tanggapan dari pendengar pun bermunculan.

Contohnya, Mang Ujang (perokok) yang mengatakan bahwa kebanyakan perokok itu masih egois dengan merokok di sembarang tempat. Mang ujang menyadari bahwa perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif. “Ini merupakan keegoisan jika merokok tanpa memperhatikan hak orang lain,” ujarnya.
Senada dengan Mang Ujang, Pak Amrul di Baranang Siang sudah menjadi perokok aktif sejak dari SD hingga menginjak usia 60, menyarankan agar ada solusi terbaik yang tidak “saklek” agar reaksinya tidak keras. (zul)