Soft Launching Labschool PAUD, Kerjasama IPB dengan ISFA Singapura

Soft Launching Labschool PAUD, Kerjasama IPB dengan ISFA Singapura

Berita



Departemen Ilmu Keluarga dan
Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor (IPB), 
bekerjasama dengan Indonesian Singapore Friendship Association (ISFA)
yang berkedudukan di Singapura membentuk Early Child Education and
Development Labschool
(IEL)/ Labscool Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), di
Ciwaluya, Bogor.

Soft Launching PAUD ini
dilakukan pada (9/7) di Ciwaluya, ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Dekan
FEMA, Dr. Arif Satria, Direktur Indonesia Heritage Foundation (IHF), Dr.
Ir. Ratna Megawangi, M.Sc., Kadep IKK, Dr.Ir.Hartoyo, M.Sc.,dan Direktur IEL,
Dr. Ir. Dwi Hastuti, M.Sc.

Sekolah
ini memiliki beberapa keunggulan diantaranya adalah, memfokuskan pada
pendidikan holistik berbasis karakter (perkembangan kognitif, sosial, emosi,
fisik, spiritual,dan karakter) yang dikembangkan oleh IHF. Menggunakan dua
bahasa (Bahasa Indonesia dan Inggris). Memiliki mutu pendidikan berstandar
internasional, hasil kerjasamam IPB dan ISFA. Tenaga pengajar dengan
kualifikasi baik, dengan pendidikan sarjana di bidang tumbuh kembang anak,
keluarga dan gizi, ujar Direktur IEL, Dr. Dwi pada
soft launching itu.

Labschool PAUD ini
menyelenggarakan 4 program yaitu, Kinder, Play Gorup, Day Care dan After
school, serta satu program tambahan.

Keunggulan
lain dari IEL adalah program kinder yang diselenggarakan dengan sistem sentra
yang terdiri dari, sentra seni dan kreativitas, ekplorasi, rancang bangun,
imajinasi, persiapan, perpustakaan, olahraga, ibadah dan memasak, ujar Dr. Dwi.

Sementara itu, Dr. Ratna Megawangi
yang juga dosen IKK ini di dalam sambutannya menjelaskan pentingya pendidikan
holistik berbasis karakter ini.

Di sini
para guru dijadikan sebagai contoh, teladan dan fasilitator, anak-anak
diberikan kebebasan untuk bertanya kepada guru tersebut. Di sini guru dijadikan
panutan dan sebagai contoh yang baik, ujar Dr. Ratna.

Menurutnya, delapan puluh persen
pertumbuhan dan pekembangan otak terjadi pada usia dini (usia keemasan) yaitu
di bawah 6 tahun. Hasil penelitian menunjukan bahwa prakterk pendidikan yang
tidak patut (contohnya, terlalu berorientasi akademik) pada anak-anak usia dini
menyebabkan anak tidak mampu berfikir kritis, tidak dapat menyelesaikan
permasalahan kehidupan, tidak kreatif, dan tidak suka belajar.

Diharapkan,
anak-anak yang belajar di sini bisa mandiri, berfikir kritis, dapat
menyelesaikan permasalahan kehidupan, kreatif, berani tampil, berani berbicara,
dan suka belajar. Syukur-syukur pada usia hendak masuk sekolah dasar nanti ia
bisa berpresentasi, ujarnya.

Sedangkan Dekan FEMA Dr. Arif
Satria, dalam sambutannya, mendukung penuh kegiatan yang digelar oleh
Departemen IKK ini, serta berharap lab seperti ini bisa menjadi sumber
pengetahuan untuk memecahkan persoalan perkembangan anak seiring kemajuan
zaman.

Departemen
IKK itu unik, tidak hanya mempelajari psikologi, namun juga memperhatikan
faktor ekonomi, ujarnya. (man)