Desa Cihideung Ilir akan Tanam Padi Organik
Pakar padi organik IPB, Dr. Sugiyanta dalam program aksi
Jum’at Keliling (Jumling) LPPM IPB di Pesantren Darul Huffah desa Cihideung
Ilir (16/7) berharap petani mau menanam padi organik. “Mudah-mudahan kita bisa memulai
untuk Cihideung Ilir. Ke depan akan kita coba dua hektar dulu karena produksi
padi oragnik harus mengikuti kriteria tertentu karena akan diakui kalau dua
tahun berturut-turut menanam padi secara organik. Jika berhasil bisa diajukan
sertifikat organiknya,” ujarnya.
Organik adalah teknologi budidaya yang tidak menggunakan
pupuk atau masukan lain (bahan kimia buatan). Pada produksi padi organik
dihindarkan sebisa mungkin menggunakan pupuk pestisida buatan pabrik atau
masukan lain yang buatan.
Yang boleh digunakan adalah pupuk organik dan pestisidanya
hayati. “Produksi padi organik bukan kembali ke jaman dahulu yang tidak
menggunakan apa-apa, tetapi tetap menggunakan pupuk atau pestisida tetapi
organik. Binaan LPPM IPB yang sudah menerapkan system budidaya padi organik ini
adalah kelurahan Situ Gede dan Desa Cikarawang,” tambahnya.
Prospek padi organik sangat cerah karena kecenderungan
masyarakat yang ingin hidup sehat tanpa bahan kimia. Beberapa peneliti
mengatakan karena petani sudah menggunakan urea dan NPK yang terlalu banyak,
maka tanah menjadi “sakit”. Menurut Dr. Sugiyanta hal itu tidak sepenuhnya
benar.
“Dengan semakin banyaknya kita menambahkan urea dan NPK ke
dalam tanah, yang terjadi adalah ketidakseimbangan unsur hara yang terkandung
di dalam tanah. Akibatnya, mikroorganisme yang ada dalam tanah tidak dapat
bertahan sehingga yang dapat kita lakukan adalah mengembalikan keseimbangannnya
dengan menanam secara organik,” ujarnya.
Dr. Sugiyanta mengakui, di awal tahun produksi padi organik
akan menurun, memang lebih rendah dari padi non organik. Dari yang biasanya 6
ton menjadi 4 ton per hektar. Walau produksi menurun, Dr. Sugiyanta menjamin
pendapatan petani tidak ikut menurun. Karena harga beras organik lebih mahal dibandingkan beras non organik.
Sementara itu,
LPPM IPB sedang berusaha mengembangkan komunitas konsumen beras organik. Oleh
karennya, ada 4 desa yang akan mendapatkan pembinaan tentang padi organik dari
LPPM IPB.
Sementara itu,
Kepala Desa Cihideung Ilir Atang Suryadimulya mengatakan kepedulian IPB
terhadap desa lingkar kampus IPB akan mempercepat kemajuan desa Lingkar Kampus
dan mensejahteraan masyarakat.
Selain program
aksi pembinaan petani Cihideung Ilir menjadi petani organik, jumling ke 11 di
tahun 2010 ini juga disampaikan materi teknologi pembuatan kompos, posdaya IPB,
informasi dan peragaan tentang mobil klinik tanaman serta pemberian santunan
anak yatim.
Hadir Dekan
Faperta, Prof.Dr.Ir. Didy Soepandie, Wakil Kepala LPPM Bidang Pengabdian kepada
Masyarakat, Dr. Prastowo, Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura, Dr.Ir.
Agus Purwito, pakar padi organik dan pestisida organik IPB, Tim Geulis IPB, dan
Ibu-ibu PKK desa Cihideung Ilir.(zul)
