Seminar Pertanian : “Inspiration for A Better Agriculture”
"…..Terbanglah tinggi menuju angkasa, meraih bintang, menggapai semesta. Buatlah cita-cita menjadi nyata. Taklukkan dunia, raihlah bintang.…". Penggalan lagu yang menjadi icon sebuah kontes musik di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) ini, serempak dinyanyikan 300-an mahasiswa yang menghadiri Seminar Pertanian di Auditorium Rektorat Andi Hakim Nasoetion Kampus IPB Darmaga, Minggu (23/5).
Nyanyi bersama ini dipimpin langsung oleh Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) IPB Prof.Dr. Didy Sopandie. Dengan penuh semangat, Prof Didy mengajak peserta seminar untuk memahami makna dari lirik-lirik yang dinyanyikan dan menjadikannya sebuah motivasi.
Prof Didy menjadi pembicara pada seminar bertajuk "Inspiration for A Better Agriculture : Menjadi Generasi Muda Intelektual yang Cinta Pertanian dan Mampu Berkontribusi Dalam Peningkatan Daya Saing Bangsa. "Cinta saja tidak cukup, tapi harus disertai dengan tindakan atau aktivitas yang mampu mensejahterakan bangsa ini," tandas Prof. Didy.
Pembicara lain pada seminar yang dibuka oleh Rektor IPB Prof.Dr. Herry Suhardiyanto ini, adalah Prof.Dr. Syafrida Manuwoto, mantan Dekan Faperta IPB. Prof Syafrida memaparkan kajian fenomena penurunan minat mahasiswa dan kebutuhan inovasi pendidikan pertanian di Indonesia.
Presiden Mahasiswa Badan Ekesekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM-KM) IPB, Achmad Firman Wahyudi, mengatakan sekarang ini sudah jarang pemuda yang ingin kuliah di pertanian. Karena itu, para mahasiswa IPB yang kompetensinya dalam pertanian, harus jadi garda terdepan dalam mencari solusi atau karya terbaiknya untuk memajukan pertanian Indonesia.
Seminar yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa ( BEM KM) IPB 2010 ini, menghadirkan keynote speaker Menteri Pertanian RI, Ir. Suswono, MMA. Peserta mahasiswa yang hadir juga datang dari beberapa perguruan tinggi yang ada di Bogor.
Menteri dalam keynote speech-nya menuturkan isu menurunnya minat generasi muda di bidang pertanian, tidak hanya ada di Indonesia, tapi juga di dunia secara keseluruhan. Kotor, penuh lumpur, dan tidak mampu memberikan pendapatan, menjadi alasan pertanian ditinggalkan para pemuda. Faktor lainnya adalah masih adanya mental priyayi di sebagian generasi muda kita, dan selalu bercita-cita ingin menjadi pegawai atau karyawan.
Namun menurut Mentan, menurunnya minat generasi muda terhadap pertanian ini tidak bisa digeneralisir. Ia mencontohkan satu kasus di Fakultas Peternakan Universitas Udayana Bali yang jumlah mahasiswanya minim, tetapi di perguruan tinggi yang ada di Nusa Tenggara Barat (NTB), mahasiswa di fakultas ini justru meningkat tajam. Seiring dengan program pemerintah setempat yang menggiatkan NTB sebagai Bumi Sejuta Sapi.
Lebih lanjut Mentan mengatakan, Indonesia memiliki potensi yang bisa memberi kontribusi pangan seluruh penduduk Indonesia maupun penduduk dunia. Dengan ini kita akan dihargai, dan bisa memimpin dunia ke depan. Namun potensi yang besar ini tidak ada artinya tanpa dukungan Sumberdaya Manusia yang qualified," kata Mentan. Dalam kesempatan ini Mentan mengajak mahasiswa untuk mengkampanyekan diversifikasi pangan. (nm)
