JADIKAN EKOSISTEM DESA-KAMPUNG SEBAGAI BASIS KONSERVASI TOGA UNTUK ”KEAMANAN OBAT” RAKYAT INDONESIA
Penelitian Strategis Unggulan LPPM-IPB 2009Oleh: Ervizal A.M. Zuhud (Ketua Tim Peneliti); Agus Hikmat, Siswoyo, Edhi Sandra dan Rita Kartikasari (Anggota Peneliti), Staf Fakultas Kehutanan IPB Tumbuhan obat dan obat tradisional sejak zaman dahulu memainkan peranan penting dalam menjaga dan memelihara kesehatan dan mengobati penyakit masyarakat secara mandiri. Namun dengan terjadinya perubahan zaman dan intervensi globalisasi di semua aspek yang tidak terkontrol telah banyak melemahkan kemandirian bangsa, termasuk ketergantungan obat-obatan impor yang banyak memboroskan keuangan-devisa negara, karena salah kebijakan. Penelitian revitalisasi konservasi TOGA yang dilakukan di empat kampung desa lingkar kampus, yaitu kampong Gunung Leutik, Pabuaran Sawah, Carang Pulang dan Cangkrang telah menunjukkan bahwa di setiap kampung secara alami tersedia keanekaragaman spesies tumbuhan obat yang bisa digunakan untuk mengobati semua macam penyakit yang diderita masayarakat. Namun masyarakat tidak banyak menggunakannya.
Berdasarkan penelitian di kampung Carang Pulang dan Cangkrang (Desa Cikarawang) berhasil diidentifikasi keanekaragaman tumbuhan obat sebanyak 233 spesies dan 21 spesies yang sering digunakan masyarakat untuk obat. Sedangkan di kampung Gunung Leutik dan Pabuaran Sawah (Desa Cibanteng dan Benteng) dijumpai sebanyak 237 spesies tumbuhan obat dan 95 spesies yang sering digunakan masyarakat untuk mengobati penyakit. Macam penyakit masyarakat utama adalah: batuk/radang saluran pernapasan, kudis dan radang kulit, tifus, diare, tekanan darah tinggi, disentri, radang lambung dan usus dan radang sendi.
Program ini memprioritaskan pengembangan 15 spesies TOGA berdasarkan nilai kegunaan untuk obat penyakit utama masyarakat di keempat kampung tersebut, yaitu meliputi : sambiloto (Andrographis paniculata.), meniran (Phyllanthus niruri ), takokak (Solanum torvum), pegagan (Centella asiatica), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), jahe (Zingiber officinale), jeruk nipis (Citrus aurantifolia), binahong (Anredera cordifolia), mahkota dewa (Phaleria macrocarpus), rosella (Hibiscus sabdariffa), pule pandak (Rauvolfia serpentine), sangitan (Sambucus javanica), sirih (Piper betle), brotowali (Tinospora crispa) dan kenikir (Cosmos caudatus). Adanya kegiatan revitalisasi konservasi TOGA di ke 4 kampung lingkar kampus IPB ini, masyarakat sudah mulai kembali mengenal dan memanfaatkan TOGA dan mencoba meramu produk TOGA untuk berbagai macam penyakit-penyakit. Contoh penting adalah pengalaman seorang kader menggunakan tumbuhan obat untuk gangguan prostat dengan menggunakan salah satu spesies tumbuhan asli desa yang selama ini mereka abaikan. Revitalisasi konservasi TOGA merupakan rekayasa psikologi sosial, terutama pembangunan sikap dan perilaku masyarakat menjadi budaya hidup sehat bersama TOGA. Pra-syarat TOGA bisa berkembang di masyarakat, apabila dilakukan pendampingan ikhlas dan tepat IPTEK secara berkelanjutan, masyarakat mendapat stimulus manfaat langsung dari TOGA, baik untuk menjaga kesehatan mandiri maupun manfaat sosial dan finansial bagi kesejahteraan masyarakat. TOGA sepatutnya dikembangkan secara nasional dengan pendekatan sosio-budaya-ekobiologi masing-masing ekosistem desa-kampung, hal ini sepatutnya dijadikan kebijakan pemerintah bersifat multi-sektor yang sangat strategis untuk mendukung ketahanan obat (medicine security) rakyat Indonesia, dalam menghadapi persaingan global, sekaligus menghemat devisa triliunan rupiah per tahun. IPB mempunyai kapasitas yang sangat memadai untuk memotorinya.
