Citra Alos Parsal : Sumber Data Murah Petakan Kehutanan

Citra Alos Parsal : Sumber Data Murah Petakan Kehutanan

Berita

 

Saat ini kehutanan Indonesia menghadapi permasalahan yang sangat kompleks, mulai dari masalah degradasi hutan karena kebakaran, illegal logging hingga perambahan hutan. Bencana banjir adalah salah satu dampak yang ditimbulkan akibat kerusakan hutan. Untuk itu dalam pengelolaanya diperlukan data dan informasi yang cepat, tepat dan murah mengingat Indonesia memiliki hutan tropis terluas ke dua setelah Brazil. Memang sektor kehutanan Indonesia sudah sejak tahun 90 an sudah menggunakan teknologi satelit pengindraan jauh (Satelite remote sensing) sebagai sarana inventarisasi dan pemetaannya tetapi masih terkendala karena sulitnya untuk dilakukan secara cepat mengingat keterbatasan waktu dan biaya. Hal ini dibahas dalam Workshop on Exploring the use of Alos Palsar for Forest Management di International Convention Centre.(3/11) yang di selenggarakan oleh Fakultas Kehutanan IPB.

 

Dekan Fakultas Kehutanan IPB, Dr. Hendrayanto dalam sambutannya menyampaikan Fakultas Kehutanan IPB sudah sejak tahun 2008 bekerjasama dengan  Pemerintah Jepang melalui Forestry and Forest Research Institut of Japan(FFPRI) untuk mengembangkan metode atau teknik mendapatkan informasi yang akurat dari Satelite remote sensing Citra Alos Palsar.

 

Dalam mengembangkan metode atau teknik mendapatkan informasi yang akurat dari Citra Alos Palsar selain dengan FFPRI,  Fakultas Kehutanan IPB juga bekerjasama dengan JICA dan Niko Exploration Development of Japan, ujar nya.

 

Ketua Panitia Workshop, Prof. Nengah, menyampaikan Satelite remote Sensing Citra Alos adalah satelit pengindraan jauh milik pemerintah Jepang  yang diluncurkan dengan satellit "DAICHI". 

 

Citra Alos memiliki tiga komponen seperti  citra panchromatic sangat cocok untuk membuat Detailed Mapping untuk pemetaan, perencanaan wilayah urban, pertanian, pemantauan hutan, pemantauan wilayah pesisir, Illegal dumping dan pemantauan banjir.

 

Selanjutnya sensor visible dan inframerah-dekat sangat cocok untuk pemetaan  dengan cakupan yang lebih luas di bidang pemantauan lingkungan seperti banjir, kerusakan hutan, lahan pertanian, pertambangan dan sebagainya

 

Komponen lainnya adalah sensor gelombang mikro. Sensor ini mampu menghasilkan gambar permukaan bumi yang bebas awan dan mampu melakukan perekaman siang dan malam. Citra ini didesain untuk melakukan estimasi biomas, pemantulan hutan, pertanian dan tumpahan minyak (Oil Spill), kelembaban tanah dan atau untuk inspeksi pengiriman barang dengan kapal laut.

 

Kelebihan lain dari Citra Alos Parsal adalah dapat menyediakan sumberdata yang murah, dengan harga sekitar Rp.3000.000 per scene (60 km x 60 km) atau sekitar Rp.8 per Ha. Hal ini bisa dibandingkan dengan inventarisasi terestris, yang memerlukan biaya jauh lebih besar, yaitu sekitar Rp.91 per Ha. Bisa juga dibandingkan dengan biaya inventarisasi hutan standar (IHMB) yang menghabiskan dana sekitar Rp.7000 per Ha atau hampir tujuh puluh kalinya.pungkasnya. (dh)