Tasyakuran Dies Natalis IPB Ke-46

Tasyakuran Dies Natalis IPB Ke-46

Berita
Dalam rangka tasyakuran Dies Natalis ke-46, Institut Pertanian Bogor (IPB) menyelenggarakan buka shaum seluruh sivitas akademika, Selasa (1/9) di Auditorium Andi Hakim Nasoetion Kampus IPB Darmaga. Peringatan Dies Natalis yang mengangkat tema "Mengokohkan Peran Strategis IPB dalam Mensejahterakan Bangsa dengan Penguatan Semangat Transparansi dan Kebersamaan" dilangsungkan tanggal 1 September hingga akhir Oktober. Rencananya Dies Natalis kali ini diisi dengan berbagai kegiatan diantaranya: jalan sehat, seminar, bakti sosial, orasi ilmiah, sidang pleno terbuka, sajian parade musik bambu dan kegiatan lainnya. "Masih dalam rangkaian Dies Natalis, Bulan Ramadhan ini IPB menyelenggarakan buka shaum dan pemberian santunan kepada lebih dari 600 anak yatim yang tinggal di 14 desa lingkar kampus," ujar Ketua Panitia Dies Natalis, Dr.Ir. Meika Syahbana Rusli.

Rektor IPB, Prof.Dr.Ir.Herry Suhardiyanto, M.Sc dalam sambutannya menyampaikan saat ini IPB sedang melaksanakan program-program dengan titik berat pada terciptanya transparansi dalam kebijakan dan operasional penyelenggaraaan pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, pembangkitan pendapatan dan sistem manajemen. "Segala sesuatu yang berkaitan program-program tersebut kami sosialisasikan sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama," kata Rektor. Terkait proses tranformasi status IPB dari Badan Hukum Milik Negara (BHMN) menuju Badan Hukum Pendidikan (BHP), kembali IPB terpilih sebagai sekretariat tujuh Perguruan Tinggi BHMN. Dalam kesempatan itu Rektor membuka rangkain kegiatan Dies Natalis IPB ke-46.

Prof.Dr.Didin Hafiduddin dalam taushiyahnya menyampaikan hendaknya kita berjuang untuk menghilangkan common enemy yakni sifat yang buruk seperti lemah pendirian, malas, kikir, bakhil, kemiskinan, iri dan dengki."Seringkali kemiskinan terjadi disebabkan kemalasan. Kegiatan meminta atau mengemis tidak lagi dilakukan karena terpaksa dan kebutuhan mendesak, tetapi sudah menjadi kebiasaan atau profesi sebagian orang," kata Prof. Didin. Perbuatan meminta yang awalnya hukumnya boleh, akhirnya menjadi perilaku tercela. Seseorang yang menggeluti profesi pengemis dianggap sudah tak memiliki harga diri dan malu. Mereka lebih suka menadahkan tangan daripada bekerja. Seseorang yang berprofesi pengemis, lanjut Prof. Didin, kelak nanti di Yaumil Akhir dibangkitkan dalam keadaan tanpa wajah.

Orang yang beriman mempunyai etos kerja tinggi. Islam menganjurkan umatnya untuk bangun pagi untuk menghindarkan malas. "Jika habis subuh tidur kembali, sebenarnya membuat tubuh kita kurang bugar. Kebiasaan tidur usai subuh merupakan indikasi sifat malas. Kita dianjurkan beraktivitas apa saja yang bermanfaat supaya terhindar dari tidur kembali," tandas Prof . Didin. Beliau menghimbau pada para hadirin meski puasa hendaknya bekerja keras dan menghindari sifat malas. Menurut beliau, orang yang memiliki etos kerja tinggi seandainya ketiduran karena kelelahan ketika bekerja akan mendapatkan ampunan dari Allah. (ris)