Tantangan Program KB pada Masa Otonomi Daerah
Rentang tahun 1800-1900 jumlah penduduk Indonesia bertambah tiga kali lipatnya. Sedangkan 1900 -2000 terjadi pertambahan penduduk lima kali lipat dari 40,2 juta orang menjadi 205,8 juta orang. Selama rentang 1900-2000, progran Keluarga Berencana (KB) berhasil mencegah kelahiran 80 juta orang. "Tanpa program KB jumlah penduduk hingga tahun 2000 diprediksi 285 juta orang, " ungkap Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr.Sugiri Syarief, MPA dalam acara Studium Generale ‘Kependudukan dan Program Keluarga Berencana: Peluang dan Tantangan', Jum'at (19/6) di Auditorium Thoyib Hadiwijaya Institut Pertanian Bogor (IPB). Acara ini digelar Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB bekerjasama dengan BKKBN.
Menurut Dr.Sugiri program KB mempunyai peran penting dalam pembangunan Sumber Daya Manusia. Program KB berkontribusi dalam meningkatkan gizi ibu dan anak, mutu tenaga kerja, produktivitas, partisipasi sekolah, tingkat pendidikan tinggi, tabungan pribadi dan umum. Program KB menurunkan konsumsi, biaya kesehatan reproduksi dan pendidikan. "Program KB juga berperan dalam memutus lingkaran setan kemiskinan (proverty trap)," kata Dr .Sugiri.
Di Era Orde Baru, program KB dinilai berhasil karena adanya komitmen politik luar biasa, kelembagaan KB sangat kuat, dukungan dana donor luar negeri besar, tenaga lapangan sangat memadai dan dukungan media masa tinggi. Jumlah peserta program KB tahun 2007 mencapai 61 persen. Sedangkan angka pertumbuhan penduduk mencapai 1,3 persen.
Di era otonomi daerah program KB mendapatkan tantangan. Semua yang berbau orde baru ditinggalkan. Kelembagaan program KB sangat lemah setelah urusan diserahkan ke kabupaten atau kota. "Pemerintah lebih mementingkan pembangunan fisik dibandingkan pembangunan sosial dasar. Program KB digabung dengan banyak urusan." Belum lagi tantangan anggaran program KB masih belum memadai dan bervariasi antar kabupaten atau kota.
Staf Pengajar Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB sekaligus ahli demografi, Ir.Said Rusli, MA membahas paparan yang disampaikan Kepala BKKBN. "Secara umum saya setuju pemaparan yang disampaikan Kepala BKKBN. Kita patut menghargai keberhasilan Program KB di masa silam dan merancang ulang di masa datang." Acara yang dibuka Rektor IPB, Dr.Ir.Herry Suhardiyanto, M.Sc dimoderatori Ketua Program Studi Wanita Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Perdesaan (PSW-PSP3) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB Dr.Ir.Siti Amanah, M.Sc. (ris)
