Gerimisbagus Sukabumi Perlu Ditiru
Seandainya sejak tahun 2007 Indonesia impor 10.000 sapi perah, 40% kebutuhan susu domestik akan terpenuhi pada tahun 2013. Swasembada susu mungkin akan terjadi apabila ada dukungan yang kuat dari pemerintah. Salah satu negara yang berhasil dalam swasembada susu adalah India dengan Revolusi Putih-nya.
Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan Revolusi Putih di India adalah adanya grand design dan action plan yang sangat rinci dan konsisten.
Sementara itu, di tengah kondisi peternak sapi perah yang sedang terhimpit ini, Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar diskusi bertajuk “Kebijakan Harga Susu, White Revolution dan Kesejahteraan Peternak” di Ruang Sidang Senat, Gedung Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Darmaga (1/6). Diskusi yang digelar Direktorat Riset dan Kajian Strategis IPB bekerjasama dengan Fakultas Peternakan IPB ini menghadirkan Teguh Boediyana, Ketua Umum Dewan Persusuan Nasional dan Dedi Setiadi, Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) dan Dr. Suryahadi, pakar peternakan IPB .
“Untuk menyelesaikan masalah persusuan di tanah air, kita membutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah yang dilandasi adanya keputusan politik. Dulu, Pak Bustanul Arifin berani mendobrak pabrik susu seperti nestle yang awalnya hanya sekedar formalitas dalam membeli susu domestik,” ujar Teguh.
Konsep dasar Revolusi Putih sendiri adalah bagaimana melalui komoditas susu segar dapat dicegah terjadinya Lost Generation. Revolusi Putih jalan terus siapapun presidennya. IPB dapat berperan sebagai back up dari segi scienties, karena selama ini persusuan di Indonesia tidak mempunyai konduktornya. Akibatnya semua kebijakan-kebijakan di pemerintah itu seperti jalan sendiri, tambahnya.
Sementara komoditi dan produk susu sangat penting dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Di Sukabumi, ada Gerakan Minum Susu Bagi Anak Usia Sekolah (Gerimisbagus). Gerakan ini merupakan program kerjasama koperasi, pemda dan perguruan tinggi.
“Gerimisbagus merupakan langkah kongkrit pengembangan sapi perah di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan konsumsi susu segar di kalangan siswa di Kabupaten Sukabumi,” ujar Dr. Suryahadi, narasumber IPB.
Sepakat dengan Dr. Suryahadi, Ketua GKSI mengatakan, data konsumsi susu di DKI Jakarta sebesar 22, 3 kg/kapita/tahun, Jabar sebesar 7 kg/kapita/tahun, Jateng sebesar 3,6 kg/kapita/tahun, dan DI Yogyakarta sebesar 1,7 kg/kapita/tahun. Jika dianalisis, penduduk Indonesia hanya mengkonsumsi susu sebesar 1 sendok teh/hari.
“Data ini kami dapatkan dari Prof. Ali Khomsan (Pakar Gizi IPB), jadi apabila bapak atau ibu tadi pagi minum susu satu gelas, maka anda sudah mengurangi jatah orang lain. Dengan adanya program seperti Gerimisbagus, satu cup/minggu di seluruh Jawa Barat saja, produksi susu sapi domestik (20%) sudah terserap semua, sehingga posisi peternak sapi perah bagus dan harga susu menjadi naik,” tambahnya.(zul).
