Pakar Terumbu Karang AS Memberikan Kuliah Umum di PPLH-IPB

Pakar Terumbu Karang AS Memberikan Kuliah Umum di PPLH-IPB

Berita

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup PPLH-IPB) menyelenggarakan kuliah umum ‘Coral Reefs, Biodiversity, and the Coral Triangle Initiative', Jumat (8/5)  di Ruang Sidang B Gedung Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Kampus IPB Darmaga.  Kuliah umum ini disampaikan Kepala Departemen Ilmu Kelautan di Smithsonian's National Museum of Natural History, Washington D.C. 

 

Dr. Knowlton mengawali kuliahnya dengan menunjukkan hasil penelitiannya di Discovery Bay, Jamaika tahun 1975. Saat itu kondisi terumbu karang di sana tidak terlalu bagus dan telah terjadi penangkapan ikan berlebihan.  Sepuluh tahun kemudian, terumbu karang telah menghilang dari teluk tersebut dan digantikan dengan tumbuhnya rumput laut.  Ternyata tidak hanya di Jamaika, dalam 30 tahun, sebanyak  80 persen terumbu karang telah menghilang dari Karibia. 

 

"Terumbu karang terus mengalami krisis karena masuknya bahan-bahan  ke dalam laut seperti karbondioksida, nutrien, racun, sedimen, dan benda-benda asing lainnya.  Bersamaan dengan itu, biota laut, seperti mamalia besar, ikan, moluska, udang-udangan dan karang telah berkurang atau keluar dari habitat terumbu karang," papar Dr.Knowlton.   Banyak masalah dan penyebab hilangnya terumbu karang, baik lokal maupun global seperti : penyakit, sedimentasi, spesies pendatang, pemutihan (bleaching), predator, karang keropos (osteoporosis of coral), tumbuhnya rumput laut, dan badai. Semua masalah dan penyebab itu kian diperparah dengan adanya penangkapan ikan dengan bahan peledak yang banyak terjadi di Asia. 

 

Dr. Knowlton memaparkan  perubahan iklim global juga menjadi penyebab hilangnya terumbu karang.    Stress berupa panas, dingin, terang, dan gelap, terutama meningginya suhu air laut menyebabkan kerusakan simbiosisme antara karang dengan alga pada karang tersebut.  Semakin banyak karbondioksida  dilepas ke atmosfir. Semakin banyak pula yang kembali ke laut melalui air hujan dan  mengubah pH (keasaman)  air laut menjadi lebih rendah atau makin asam.  Turunnya pH air laut ini menyebabkan karang menjadi keropos (coral osteoporosis).  Karang keroposini  jika dikembalikan ke kondisi air laut semula  tidak dapat membuat memperbaiki terumbu kembali. 

 

Terumbu karang memiliki nilai ekonomis tinggi, dan lebih tinggi lagi bila dibiarkan berada dalam laut dibandingkan diambil untuk dijual.  "Wisata bawah laut yang dikemas sedemikian rupa merupakan salah satu cara menghitung nilai ekonomi terumbu karang.  Sebagai contoh di Hawaii, terumbu karang yang dibiarkan hidup di habitatnya bernilai 361 juta dolar AS, sedangkan perikanan laut di sekitarnya hanya bernilai 3 juta dolar AS," urai Dr.Knowlton.

 

Terumbu karang bagaikan "hutan hujan tropis" bagi lautan.  Indonesia memiliki 600-700 spesies terumbu karang dari sekitar hampir 1000 spesies terumbu karang dunia.  Jumlah ini adalah yang baru dapat diidentifikasi.  Diperkirakan terdapat 1-9 juta spesies terumbu karang di seluruh dunia dan seperempatnya hidup di lautan serta sebagian besar lagi masih langka.

 

 Dr. Knowlton memperingatkan korelasi kuat antara jumlah ikan dengan kesehatan terumbu karang. "Semakin banyak ikan, maka terumbu karang pun banyak dan bagus, demikian pula sebaliknya," ujar Dr. Knowlton dalam Kuliah Umum

 

 Salah satu cara melestarikan terumbu karang yang patut dipertimbangkan ialah membuat sebanyak-banyaknya Kawasan Perlindungan Laut (Marine Protected Area) seperti Taman Nasional Laut, Cagar Alam Laut, dan Suaka Margasatwa Laut. Sebab, terumbu karang merupakan biota yang dapat memperbaiki dirinya sendiri setelah kerusakan, namun perlu didukung dengan strategi pemulihannya.  Strategi jangka pendek atau skala lokal dengan mengendalikan tekanan dari penangkapan ikan, meningkatkan kualitas air laut, menyediakan jaminan, dan memberikan waktu yang cukup untuk terumbu karang agar pulih kembali.  Strategi jangka panjang atau skala global dengan mereduksi pembuangan  karbondioksida ke atmosfir dan mengumpulkan serta mengembalikan keanekaragaman biota laut ke habitatnya semula. Disamping mencegah hilangnya terumbu karang. "Lebih mudah dan murah daripada memperbaiki habitatnya (restorasi)," tegas Dr.Knowlton.

 

Dr. Knowlton berpesan: "Jika kita beraksi sekarang, masih banyak tempat di mana terumbu karang masih bagus dan ikan-ikan melimpah.  Cerita sukses tentang konservasi terumbu karang memang masih sedikit, tetapi ada!  Dan ini adalah saatnya untuk memberikan kesempatan kerjasama di bidang ilmu pengetahuan, konservasi, dan pendidikan bagi kelautan dan iklim antara Indonesia dan Amerika Serikat".

 

Sebagai informasi saat ini Dr. Knowlton juga memegang beberapa jabatan diantaranya: the National Geographic Society's Committee on Research and Exploration and Conservation Trust Committee, Chair of the World Bank's Targeted Research Program for Coral Reefs, Principle Investigator of the Census of Marine Life's Coral Reef Initiative, dan Associate Editor for the Annual Review of Marine Science. Dr. Knowlton juga seorang fellow of the American Association for the Advancement of Science dan fellow of the Aldo Leopold.

 

Kuliah umum yang dimoderatori Dr. Neviaty P. Zamani ini dihadiri oleh 45 peserta, baik mahasiswa S1, S2, S3, maupun dosen di lingkungan akademik IPB.  Turut hadir dalam kuliah ini Assistant Cultural Attaché Kedutaan Besar Amerika Serikat Mr. Jason Rebholz, Kepala PPLH IPB Prof. Dr. Dedi Soedharma, Sekretaris Eksekutif PPLH-IPB Dr. Ir. Lilik B. Prasetyo, M. Sc., dan para Peneliti Muda PPLH-IPB.  (ekd/ris)