Lokakarya Pendidikan Program Sarjana di IPB

Lokakarya Pendidikan Program Sarjana di IPB

Berita

Institut Pertanian Bogor (IPB)
menggelar Lokakarya Pendidikan Program Sarjana "Evaluasi Proses Pembelajaran
Ilmu Dasar di Tingkat Persiapan Bersama", Senin (19/1) di Auditorium Andi Hakim
Nasoetion Kampus IPB Darmaga.

 

"Lokakarya kami maksudkan tidak hanya untuk sosialisasi
dan penjelasan terkait dengan berbagai perkembangan dan perubahan yang ada di
IPB, tetapi juga sebagai kesempatan berdiskusi tentang persoalan pangan dan
energi serta peran IPB, di samping keterkaitan antara kurikulum Mayor-Minor dan
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).  Penjelasan berbagai Mayor di IPB, serta
evaluasi kemampuan ilmu dasar di TPB dan kaitannya dengan Proses Belajar
Mengajar (PBM) di Sekolah, "kata Rektor IPB, Dr.Ir.Herry Suhardiyanto, M.Sc
dalam sambutannya.

 

Rektor IPB memaparkan mengenai keunggulan kurikulum
sistem mayor minor, Undangan Seleksi Mahasiswa IPB (USMI) dan Tingkat Persiapan
Bersama (TPB). "Sebelum
mengambil mata kuliah mayor maupun minor, setiap mahasiswa baru terlebih dahulu
mengambil mata kuliah-mata kuliah dasar pada Program Pendidikan Tingkat
Persiapan Bersama (TPB) selama satu tahun," ungkap Rektor.

 

Sistem penerimaan yang didasarkan pada penelaahan rapor
siswa selama di sekolah menengah atau USMI merupakan terobosan dalam
memeratakan kesempatan pendidikan tetapi dari sisi lain menuntut kehati-hatian
yang lebih besar karena kesenjangan taraf perkembangan antar SMA.  Karena
itulah, IPB memandang perlu untuk mengatasi kesenjangan tersebut dengan
menyelenggarakan Program Pendidikan TPB. "Program ini berperan pula untuk
memberikan landasan yang memadai dan relatif sama kepada mahasiswa untuk
menuntut pendidikan selanjutnya di mayor atau minor masing-masing," tandas
Rektor IPB. Pada tahap inilah, para mahasiswa baru sering menghadapi berbagai
kendala yang akan mempengaruhi motivasi dan prestasi masing-masing dalam
menapaki tahap selanjutnya.

 

IPB membuka dan menjamin akses yang sama kepada semua
lapisan masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi. Sebelum dan
sesudah berstatus BHMN, rata-rata IPB menerima mahasiswa tidak mampu yang
memiliki kualifikasi akademik tinggi sekitar 20% dari total mahasiswa baru. Rektor
mengatakan  dana operasional yang berasal
dari SPP mahasiswa  berkisar 30 persen
dari total biaya operasional. "Ini sudah sesuai dengan amanat Undang-undang
BHP."

 

Rektor berharap dari pertemuan terjalin kerjasama yang
selama terbangun antara IPB dan semua SMA mitra dapat dipertahankan.  "Pertemuan ini diharapkan dapat meningkatkan
prestasi yang telah Saudara capai selama ini. 
Kami mengharapkan agar informasi yang Saudara dapatkan di sini dapat
disampaikan kepada para siswa di SMA Saudara," harap Rektor.

 

Pada lokakarya ini, Direktur Program Pendidikan TPB Dr.
Ir. Ibnu Qoyyim menyampaikan presentasi tentang Evaluasi Proses Pembelajaran
Ilmu Dasar di Tingkat Persiapan Bersama : Analisis Kemampuan Mahasiswa
Beradaptasi. "Mahasiswa TPB IPB mengalami kesulitan beberapa mata kuliah
terutama pada  Kalkulus, Matematika,
Kimia, Fisika dan Biologi," kata Dr.Ibnul Qayyim. Tampil sebagai narasumber
juga Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Prof.Dr.Yonny
Koemaryono dan Direktur Administrasi Akademik IPB, Dr. Drajat Martianto.
Peserta lokakarya sangat antuasias melontarkan berbagai pertanyaan dan harapan
pada IPB. Peserta terdiri dari kepala-kepala dinas pendidikan dan kepala SMA
dari Jakarta, Banten, Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah dan Lampung. (ris)