HAKU Gelar Seminar “Water Resource Management”

HAKU Gelar Seminar “Water Resource Management”

Berita

“Banjir itu, bukan semata-mata
kiriman dari Bogor tetapi Jakarta sendiri juga mempunyai andil yang
begitu besar yakni adanya konversi Pantai Indah Kapuk menjadi perumahan elite.
Padahal kawasan itu sebenarnya terminal air tapi kenapa di bangun pemukiman?”
ujar Prof. Peter E. Hehanussa pakar manajemen sumberdaya air dalam hubungannya
dengan biodiversity. Prof. Peter adalah pakar dari LIPI.

Prof. Peter menambahkan bahwa
banjir yang terjadi di Jakarta juga berasal dari
air rob dan bukan semata-mata dari Bogor.
Jangan selalu menyalahkan Bogor
karena seharusnya bisa sharing dan
menyelesaikan bersama-sama.

Jika Pantai Indah Kapuk dibangun, pengembang harusnya bisa memberikan
kompensasi seperti memberikan terminal air yang sama.

Hal ini terungkap saat Prof. Peter menjadi pembicara dalam seminar yang
terselenggara berkat kerjasama antara Kyoto University Alumni Association
(HAKU) of Indonesia dengan IPB, LIPI, Centre for Southeast Asian Studies
(CSEAS), Research Institute For Sustainable Humanosphere (RISH) dan Kyoto
University, Jepang .

Seminar yang mengangkat Topik
“Water Resource Management from the Policy Perspectives and in Relation to
Global Climate Change and Integrated Watershed Management” ini diikuti sekitar
100 peserta. Lokasi seminar yang berada di Auditorium Toyyib, Kampus IPB
Darmaga Bogor, sempat terhubung langsung dengan President of Kyoto University,
Dr. Hiroshi Matsumoto di Jepang melalui Teleconference (23/1).

Dr. Hiroshi mengatakan bahwa Kyoto University
dan IPB sudah saling berhubungan sejak IPB masih tergabung dengan UI sampai
berdiri sendiri tahun 1964 hingga sekarang.  
“Dari hasil seminar ini saya ingin mengetahui problem yang dihadapi oleh
Indonesia
dalam masalah manajemen sumberdaya perairan. Apalagi sekarang di Jakarta sedang dilanda banjir, dan terjadinya deforestry
di kawasan puncak Bogor.
Saya harap dengan adanya HAKU Indonesia,
permasalahan tersebut dapat dipecahkan,” ujarnya

Seminar ini mempunyai tujuan untuk memeriksa
status sekarang dari manajemen sumberdaya air di dalam perubahan iklim global
dan untuk mengembangkan strategi ke depan guna tercapainya kerjasama ilmiah
dalam mengintegrasikan tugas HAKU dalam memberikan pelatihan manajemen
sumberdaya perairan.

Sementara itu, pembicara dari Kyoto University,
Prof. Isamu Yamada mengatakan bahwa apabila tidak ada air maka tidak akan ada
hutan, jika tidak ada hutan maka tidak akan ada air yang baik. Dengan semakin
berkurangnya hutan hujan tropis di tataran dunia di masa depan kita membutuhkan
fasilitas yakni hubungan dengan universitas lain, menambah jaringan, tambahan
informasi, komunikasi langsung, penelitian-penelitian yang berjangka panjang,
penelitian di wilayah pembelajaran dalam skala global, dan aksi yang nyata yang
kami sebut di sini “Tokunila” (key person).

Sedangkan menurut Ketua Panitia, Prof. Cecep
Kusmana, permasalahan ini sebenarnya dapat terselesaikan dengan tercapainya
sinergitas antara Academik, Bussines, Government for Community (ABGC). “Di
negara Jepang ABGC sudah tersinergi dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, dari salah satu media nasional
dinyatakan bahwa Antartika bertambah hangat selama setengah abad terakhir bersama
belahan lain dunia, demikian hasil satu studi baru yang disiarkan di dalam Jurnal
Nature, terbitan Kamis. Kajian oleh para ilmuwan AS melalui catatan cuaca dan
satelit untuk wilayah Kutub Selatan, yang berisi 90 persen es dunia dan akan
menaikkan tingkat permukaan air laut jika es di Antartika mencair,
memperlihatkan bahwa temperatur beku telah naik sebesar 0,5 derajat Celsius
(0,8 Fahrenheit) sejak 1950-an.

Para ilmuwan tersebut menyimpulkan bahwa wilayah
timur Kutub Selatan, yang lebih besar dan lebih dingin dibandingkan dengan
bagian baratnya, bertambah hangat 0,1 derajat Celsius per dasawarsa, dan temperatur
di bagian barat naik 0,17 derajat Celsius per dasawarsa, lebih cepat daripada
kenaikan rata-rata global.(zul)