Konser Jazz BOI AKIH Di IPB “Improvisasi Dalam Keharmonisanâ€
Istilah tersebut mungkin terlihat lebih tepat, ketika menyaksikan konser dari grop jazz terkenal Belanda "BOI AKIH" di Gedung Graha Widya Wisuda (GWW) IPB. Civitas akademika IPB dibuat sadar akan perlunya melakukan improvisasi dari setiap peran yang dimainkan, namun tetap memperhatikan keharmonisan yang ada. Berbeda memang dengan menyaksikan musik klasik atau pop yang sering ditonton dan diselenggarakan oleh sebagaian besar mahasiswa di IPB, BOI AKIH dengan musik jazznya memperlihatkan naluri kebersamaan yang besar. Dia tidak memperlihatkan pemusatan pada buah komposisi musik dari seorang pencipta, peran dominan seorang dirigen atau keprimadonaan dari seorang penyanyi.
Diawali dengan lagu "NAIK-NAIK KE PUNCAK GUNUNG", penonton yang terdiri dari dosen, pegawai dan mahasiswa IPB seperti diingatkan kembali akan romantisme masa kecil kedaerahan yang hampir dimiliki oleh setiap anak Indonesia, akan keindahan alam tanah airnya untuk mendaki gunung, berjalan-jalan atau mungkin berkemah di kesegaran udara pegunungan. Terlebih dengan tambahan lagu diakhir pertunjukkan "WAKTU HUJAN SORE-SORE" yang dinyanyikan dengan menggunakan akustik gitar, seolah-olah menambah kesejukan kota Bogor yang sebelumnya diguyur hujan lebat, sehingga menyadarkan akan indahnya hujan setiap sore hari di Bogor saat pulang responsi atau praktikum dari kampus IPB sambil duduk di branda depan asrama atau tempat kost, terlebih pada masa-masa perkuliahan masih berpusat di kampus IPB Baranangsiang.
Nuansa jazz "swing", "bebop" atau bahkan cenderung "free jazz" yang kental, selanjutnya terus dimainkan sepanjang konser, dengan tetap membawakan lagu-lagu daerah yang berasal dari Kepulauan Haruku di Maluku. Lagu "PANGGAYO" misalnya, dibawakan dengan penguasaan teknik tinggi dari Neils Brouwer di gitar, Victor de Boo di drum, Ernst Glerum di Bass, dan Mike del Ferro di Keyborad, yang bermain secara habis-habisan dengan mengungkapkan seluruh energi dan eksplorasi batin yang tanpa batas serta teknik vokal dari Monica Akihary yang tidak hanya dipakai untuk menyanyikan lagu-lagu yang merdu, tetapi juga diperlakukan sebagai layaknya instrumen sumber segala diksi dan teknik produksi suara "scat singing", sehingga menjadikan tontonan jazz yang menarik.
Konser dengan tata panggung yang meriah dan 2.000 lebih tempat duduk yang disediakan panitia terisi semua oleh undangan ini diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa IPB melalui menteri budaya, olahraga dan seni, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bidang seni IPB, seperti MAX !!, Agria Swara, dan Lingkung Seni Sunda "Gentra Kaheman" serta Direktorat Kemahasiswaan IPB. Konser ini merupakan bentuk kegiatan apriasi dan kerjasama budaya antara Pemerintah Kerajaan Belanda melalui Pusat Kebudayaan Belanda "Erasmus Huis" Jakarta dengan pemerintah Indonesia.
Rektor IPB Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, MSc. bersama keluarga, Direktur Pusat Kebudayaan Belanda "Erasmus Huis" Paul Peters bersama Asisten Wakil Direktur Bob Werdhana, serta Direktur Kemahasiswaan IPB Dr. Rimbawan turut hadir di tengah-tengah mahasiswa. (Ditmawa/nUr)
