Orasi Ilmiah SBY di Sidang Terbuka Dies Natalis ke-45 IPB

Orasi Ilmiah SBY di Sidang Terbuka Dies Natalis ke-45 IPB

Berita

dsc_0237ris1_400_01Sidang Terbuka dengan menampilkan orasi ilmiah tokoh-tokoh nasional sudah menjadi tradisi di Institut Pertanian Bogor (IPB) saat merayakan Dies Natalis. Tahun ini, bertepatan dengan Dies Natalis IPB ke-45, Orasi Ilmiah menghadirkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tema orasi Presiden yang diminta IPB adalah "Membangun Konvergensi Nasional Menuju Kemandirian Pangan dan Energi untuk Memperkokoh Kedaulatan Bangsa". Namun mengingat krisis global yang tengah melanda saat ini, presiden yang alumnus doktor Ilmu Ekonomi Pertanian IPB ini meminta tema yang disampaikannya diganti. Akhirnya, tema "Ekonomi Indonesia Abad 21: Tantangan Globalisasi" disampaikan Presiden pada acara yang dilangsungkan di Graha Widya Wisuda, Kampus IPB Darmaga, (4/11) itu.

Orasi ilmiah dihadiri sejumlah menteri kabinet Indonesia Bersatu, pejabat dari berbagai Departemen, Gubernur dan Muspida Jawa Barat, serta pejabat pemkab maupun pemkot Bogor. Dari kalangan internal IPB, hadir sejumlah guru besar, Majelis Wali Amanat (MWA), Senat Akademik, (SA), para dosen, pegawai dan mahasiswa.

Rektor IPB Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, MSc berkesempatan membuka Sidang Terbuka. "IPB telah 45 tahun berkiprah dan menorehkan sejarah baik dalam bidang pendidikan maupun pembangunan pertanian dalam arti luas. IPB pernah berperan penting dalam program revolusi hijau, khususnya dalam menginisiasi konsep Bimas. Tahun 1971, konsep Koperasi Unit Desa (KUD) lahir berbarengan dengan konsep Usaha Peningkatan Gizi Keluarga (UPGK) sebagai implikasi dari penerapan konsep Bimas. Pada tahun 1973, IPB kembali membuat sejarah dengan lahirnya indikator pengukuran kemiskinan dari Prof. Sajogyo yang masih digunakan hingga sekarang. IPB juga menginisiasi penelitian khusus tentang wanita dan mewadahi studi wanita dalam lembaga khusus yang disebut Pusat Studi Wanita (PSW). Program Pascasarjana IPB merupakan program pascasarjana pertama yang diselenggarakan secara terstruktur di Indonesia sejak dekade 1970-an. IPB pun merupakan perguruan tinggi pertama yang menggagas penerimaan mahasiswa baru melalui jalur PMDK, yang hingga kini banyak diadopsi berbagai perguruan tinggi di Indonesia. " papar Rektor. Lebih lanjut dikatakan Rektor, dalam beberapa tahun terakhir, IPB menginisiasi dan mengembangkan kurikulum sistem mayor-minor sebagai bentuk inovasi pada bidang pendidikan tinggi.

Presiden SBY memulai orasi dengan dua cerita pendek yang keduanya mengarah kepada bagaimana krisis global harus diatasi. Cerita pertama, menekankan bahwa Amerika Serikat dan negara-negara maju harus bisa mengatasi krisis keuangan dan mau bertanggung jawab atas berbagai krisis yang timbul akibat bubble economy yang dipraktikan selama ini. Cerita kedua, bagaimana segenap komponen bangsa berupaya mengelola dampak krisis.

"Tidak ada kamusnya Indonesia ini kekurangan pangan dan terjerat krisis energi. Karena sumberdaya kita seperti minyak, tambang, gas, serta sumberdaya pertanian sangat melimpah, " tegasnya optimis. Krisis global yang saat ini melanda membuat saya berkesimpulan bahwa tatanan ekonomi dunia harus diperbaiki agar lebih aman, stabil, adil bagi semua bangsa. Akar penyebab krisis diantaranya terjadinya ketimpangan antara negara-negara maju dengan negara-negara miskin. Presiden juga menyinggung betapa besarnya peran Multi National Corporations (MNCs) dalam memetakan ekonomi dunia. Presiden juga mempertanyakan apakah lembaga-lembaga internasional yang dibentuk pasca perang dunia II seperti IMF dan WTO selama ini berhasil mengatasi permasalahan global ataukah hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu.

Untuk itu pada kesempatan tersebut, Presiden mengajak seluruh komponen bangsa untuk mengelola krisis ini menjadi sebuah peluang. "Sumber-sumber investasi dan pendanaan dalam negeri harus lebih kita perkuat. Jangan mengandalkan dana luar negeri, " tandas Presiden. "Demikian juga, kita harus mengelola pasar dalam negeri. Kalau kita menggantungkan pada pasar ekspor, maka ketika pasar di luar menciut, maka harga-harga komoditas kita akan serta merta anjlog, " jelasnya. Presiden pun menegaskan bahwa dirinya tidak percaya dengan trickle down effect.

Menuju ekonomi Indonesia Abad-21, Presiden menyatakan perlunya penciptaan keseimbangan perekonomian global. "Ini sebenarnya merupakan peluang bagi Asia Timur untuk menjadi penyeimbang bagi Amerika dan Eropa, " tandas Presiden.

Dalam konteks ketahanan pangan dan energi, Presiden mengatakan bahwa di situlah domain IPB. Bagaimana ke depan Indonesia bisa mengatasi krisis pangan dan energi akan sangat terbantu dengan pemikiran-pemikiran kritis dari IPB. Dalam konteks ekonomi yang saat ini dinilainya sangat tidak berkeadilan, Presiden meminta kita menghadapinya dengan rasional dan tidak emosional. Presiden pun menantang munculnya ekonom-ekonom handal dari IPB di masa mendatang.

Seusai orasi ilmiah, dua lagu dinyanyikan Agriaswara IPB. Pertama, "Rayuan Pulau Kelapa" dan lagu kedua "Hening".  Lagu yang kedua ini merupakan ciptaan Presiden Yudhoyono. (nUr/nm)