Penting, Pendidikan Wirausahaan Pertanian di Indonesia
Masih sangat sedikit perguruan tinggi Indonesia yang memberi perhatian pada pendidikan kewirausahaan pertanian sebagai sarana pelengkap modal manusia agar bisa berkompetensi di dunia nyata. Pendidikan kewirausahaan di Indonesia sangat penting karena merupakan investasi modal manusia "Setidaknya dibutuhkan 2 persen wirausahawan di sebuah negara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan di Indonesia baru ada sekitar 400 ribu wirausahawan atau hanya 0.18 persen dari total penduduk," kata Pakar Entreprentreneur dan Perusahaan, Ir. Ciputra dalam Seminar Internasional The Importance of Agriculture Entrepreneurial Education in Indonesia: From Vision to Action Selasa (11/12) di Institut Pertanian Bogor (IPB) International Convention Centre Bogor.
Menurut Ciputra di Singapura yang jumlah penduduknya lebih sedikit dari Indonesia memiliki entrepreneur sekitar 7 persen.
"Kita memahami aset yang paling berharga di abad 21 ini yakni pengetahuan dan pekerja atau wirausaha terdidik," kata Rektor IPB, Prof. Ahmad Ansori Mattjik didampingi Presiden International Cooperation Development Fund (ICDF) Indonesia sekaligus Wakil Rektor IV IPB, Dr. Asep Saefudin. Pengetahuan memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi nasional. Pengetahuan bisa menggantikan sumberdaya alam yang seringkali tak terbarukan dan merusak ekosistem serta lingkungan. "Kita membutuhkan wirausahawan terdidik yang mengelola sumberdaya agar sesuai lingkungan dan kepentingan masyarakat," jelas Mattjik
Lanjut Rektor IPB ini, di sektor pertanian, lebih dari 90 persen petani lulusan sekolah dasar. Oleh karena itu melibatkan lulusan perguruan tinggi dalam program kewirausahaan adalah hal yang sangat krusial saat ini. Investasi pada modal manusia akan menaikkan perolehan gaji invididu yang akan berdampak pada peningkatan pendapatan negara pengguna modal.
Indonesia bersama dengan negara Asia lainnya sekarang menghadapi persaingan global, penawaran sarana prasarana dan jasa, pasar liberal, pertanian modern, serta sumberdaya manusia. Globalisasi jika dilihat memiliki dua mata sisi. Satu sisi merupakan peluang besar yang harus segera ditangkap. Sisi lain merupakan ancaman yang dapat membawa banyak penderitaan pada negara berkembang. Bersamaan itu pula Indonesia mengalami tekanan percepatan pertumbuhan ekonomi, kemiskinan yang meluas, dan bagian besar di bidang pertanian, kekurangan lapangan pekerjaan di pedesaan, penghasilan sangat rendah dan kurangnya akses sarana prasarana dan jasa.
Beberapa negara Asia mengalami seperti yang dialami Indonesia. Taiwan, salah satu contohnya, telah berhasil mengubah pertanian tradisionalnya menjadi modern melalui pengembangan agribisnis, agroturis dan agroservices. Beberapa perusahaan pribadi di Indonesia juga berhasil merubah ketrampilan dan pengetahuan wirausahawannya.
Seminar Internasional menghadirkan pembicara antara lain: Recognition and Mentoring Program- Institut Pertanian Bogor (RAMP-IPB), Dr.Aji Hermawan, Ciputra Entrepreneur Foundation, Antonius Tanan, Dekan Fakultas Pertanian IPB, Prof.Didy Sopandie, Departemen Ekonomi Pertanian Universitas Nasional Taiwan, Prof.Shih-Hsun Hsu, Departemen Bioindustri dan Administrasi Pertanian Universitas Nasional Chia-yi, dan PT. Charoen Pokphand Indonesia, drh.Darmansyah, MBA,. Tujuan seminar ini selain sharing pengalaman, saling mengadopsi pengalaman praktis juga mengkonsep action plan pada pendidikan kewirausahaan di Perguruan Tinggi yang mampu memecahkan masalah utama kemiskinan dan pengangguran. (ris)
