Selamat Datang Mahasiswa Baru IPB Angkatan 44

Selamat Datang Mahasiswa Baru IPB Angkatan 44

Berita

IPB Terima 2216 Mahasiswa Baru Jalur USMI Sejak 2-5 Juli 2007, IPB kembali menerapkan tradisinya mengundang lulusan SLTA berprestasi dari seluruh Indonesia yang dirintis sejak 1975, dulu namanya Proyek Perintis II, berubah menjadi Penulusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK) dan sekarang lebih dikenal sebagai jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).  Rektor IPB, Prof Dr. Ir. H. Ahmad Ansori Mattjik, MSc mengatakan: “tradisi ini merupakan nilia-nilai yang terus dipegang sejak IPB didirikan 1 September 1963. Pendidikan adalah untuk semua, education for everyone”. Dengan mengundang putra-putri dari seluruh Indonesia itu, IPB dapat memberikan kontribusi lebih nyata dalam penyediaan sumberdaya manusia untuk membangun dunia pertanian dalam arti yang seluas-luasnya di seluruh Indonesia.  Gedung Graha Widya Wisuda Kampus IPB Darmaga tampak semarak dipadati kehadiran mahasiswa baru IPB angkatan 44.  Sebanyak  2216 lulusan SLTA telah memberikan konfirmasi untuk menjadi mahasiswa baru jalur USMI.  Wakil Rektor I sekaligus Ketua Panitia Penyambutan Mahasiswa baru (PPMB), Prof.Dr.Ir. Ahmad Chozin mengatakan:  “Pada tahun ini sekolah yang diundang meningkat dari 1700-an menjadi 1900-an.  Ini berarti IPB mengikuti perkembangan pertambahan sekolah yang baik di Indonesia.  Pendaftar tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Ini mencerminkan minat generasi muda pada bidang pertanian dalam arti luas ternyata cukup menggembirakan”.  Ditambahkan Chozin bahwa mahasiswa baru program sarjana yang akan diterima IPB ditingkatkan dari 3000 menjadi 3100 orang.  Adapun mahasiswa yang diterima melalui jalur USMI adalah 70%, sedangkan sisanya adalah 28% melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), dan 2% melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) dan jalur Prestasi Internasional dan Nasional. Mengantisipasi pertambahan mahasiswa yang harus ditampung di Asrama Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) Wakil Rektor II, Dr. Ir H. Herry Suhardiyanto, MSc menjelaskan bahwa sejak empat bulan yang lalu IPB melalui bantuan dari Kementerian Negara Urusan Perumahan Rakyat telah membangun asrama Rusunawa dengan kapasitas 400 orang.  Ditegaskannya: “Jadi selain IPB telah memiliki fasilitas Asrama Mahasiswa TPB dengan kapasitas 3000 orang sejak tahun 1999, kini dengan Rusunawa bertambah kapasitas 400 orang”.    Keharusan mahasiswa TPB tinggal di asrama, dimaksudkan untuk mengaikuti Program Pembinaan Akademik dan Multibudaya.  Wakil Rektor III, Prof Dr. Ir. H. Yusuf Sudohadi, MSc  selaku penanggungjawab kegiatan kemahasiswaan tersebut mengatakan: “Dengan adanya asrama ini, pembinaan mahasiswa IPB semakin lengkap untuk diasah kecerdasan intelektualnya, kecerdasan emosionalnya, kecerdasan spiritualnya dan kecerdasan sosialnya”.  IPB menjadi percontohan pembinaan kemahasiswaan nasional. Hal senada diungkapkan Kepala Asrama-TPB IPB, Dr. Bonny W Sukarno mengatakan pembinaan multibudaya di asrama ini bertujuan untuk menanamkan rasa kebersamaan di kalangan mahasiswa dalam rangka meningkatkan kemampuan akademik, menumbuhkan sikap profesionalisme mahasiswa dan menanamkan rasa kepedulian sosial, budaya dan lingkungan,” Bonny. Tujuan lain pembinaan multibudaya adalah menumbuhkan jiwa kewirausahaan (enterpreuneurship) mahasiswa dan meningkatkan moral dan etika mahasiswa TPB-IPB.  Sistem pembinaan yang dikembangkan di asrama ini adalah pola pendidikan manusia dewasa.  Untuk itu perangkat organisasi pembinaan mahasiswa di asrama, selain melibatkan para dosen konselor, juga ada manajer asrama untuk masing-masing gedung dan adanya kakak asrama (senior residence) untuk masing-masing lorong yang dihuni sekitar 50-100 mahasiswa. Untuk mendorong minat mahasiswa baru dalam memilih unit kegiatan mahasiswa yang ada di IPB, pada hari pertama  pendaftaran mahasiswa dilaksanakan kegiatan Open House Penyambutan Bahasiswa Baru.  Acara ini digelar di pelataran Plaza Akademik yang terletak sepanjang 500 meter antara Gedung Rektorat dan Gedung Graha Widya Wisuda.  Hapir 40 Unit kegiatan mahasiwa ditambah dengan Stand Badan Eksekutif Mahasiswa dan Dewan Perwakilan Mahasiswa, melakukan Open House. Selama mahasiswa melakukan registrasi ulang dan wawancara yang dilakukan oleh hamper 300 dosen IPB, Mahasiswa baru harus mengikuti serangkaian pemeriksanaan, seperti pemeriksaan kesehatan secara umum maupun pemeriksaan urin untuk memastikan mahasiswa bebas Narkoba.  Dr. Sri Budiarti Kepala Poliklinik IPB menjelaskan:  “Kalangan IPB dan para orangtua mahasiswa bersyukur bahwa tidak satu orangpun yang mendaftar IPB terindikasi Narkoba”.  Sri menambahkan: “Mudah-mudahan pemeriksaan dan pemantauan mahasiswa secara intensif terhadap ancaman narkoba, menjadikan IPB sebagai Kampus Bebas Narkoba”..  . Sementara itu, orang tua mahasiswa baru pada hari pertama penyambutan berkesempatan mengikuti pertemuan  Perhimpunan Orangtua Mahasiswa (POM) IPB yang digelar di sembilan fakultas di lingkungan IPB.  Pertemuan orangtua mahasiswa ini bertujuan untuk meningkatkan kedekatan IPB dengan keluarga mahasiswa dan terbentuk jejaring yang kuat antara IPB dan keluarga mahasiswa.  Wakil Rektor IV IPB yang membidangi kerjasama dan pengembangan Dr. Ir. Asep Saefuddin, menjelaskan: “Kegiatan pertemuan dengan orangtua mahasiswa baru dimaksudkan untuk membangun komunikasi dan mengembangkan jejaring dan menggali kemungkinan kerjasama antara IPB dengan para orangtua”   Asep menambahkan: “Selain itu, pertemuan ini juga untuk mengukur harapan orangtua kepada IPB.  Contohnya ada orangtua yang mengharapkan setelah lulus anaknya dapat menjadi diplomat.  Dengan cara itu, pembelaan kepada nasib petani bukan saja pada level nasional, tetapi juga internasional”. Direktur Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB, Dr.Ir Ibnul Qayyim  merupakan suatu unit yang bertugas melaksanakan dan mengkoordinasikan proses belajar mengajar bagi mahasiswa baru IPB selama tahun pertama. “Harapannya ketika mengikuti TPB, mahasiswa mempunyai kompetensi umum dan memahami arti pertanian dalam arti luas. Hal ini yang menjadi jawaban mengapa lulusan IPB dapat bekerja di semua bidang pekerjaan,” ujar  Qayyim. Sejumlah orang tua mahasiswa yang khawatir putra-putri mereka mengalami tindak kekerasan selama mengikuti masa orientasi kampus. ”Di media jelas-jelas disebutkan, salah satu perguruan tinggi di Indonesia sudah banyak melakukan tindak kekerasan terhadap mahasiswanya. Jadi kami khawatir hal itu terjadi di IPB,” ujar seorang peserta silaturrahim POM.  Terkait dengan POM, organisasi ini berperan di dalam membantu kelancaran proses studi mahasiswa diantaranya memberikan bantuan beasiswa. “Tahun lalu, POM memberikan beasiswa pada 500 mahasiswa yang membutuhkan,” Ketua POM, Ir.H. Imam Purwanto.  Penerimaan mahasiswa baru di IPB (Ospek, red) tidak mengenal budaya kekerasan dalam pelaksanaannya. Bahkan, terangnya, selama di Tingkat Persiapan Bersama (TPB), para mahasiswa baru yang tinggal di asrama akan dibimbing oleh para senior residence dengan penuh rasa kekeluargaan. (AL/nm/ris/nur)