Koperasi Ciptakan Globalisasi Berkeadilan
Globalisasi pasar bebas menguntungkan negara-negara berkembang bila mendorong kesadaran akan potensi sumberdaya alam. Selain juga menumbuhkan keberanian mengambil kebijakan yang memihak pada kepentingan masyarakat. Demikian papar Deputi Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Koperasi dan UKM Dr. Muhammad Taufiq saat membacakan sambutan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia dalam Seminar Nasional Himpunan Profesi Mahasiswa Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) bertajuk ’Meningkatkan Daya Saing Agribisnis Melalui Revitalisasi Fungsi dan peranan Koperasi Menuju Pasar Global’ Selasa (10/7) di Ruang Mahoni Kampus IPB Gunung Gede. Untuk mengentaskan kemiskinan kementrian telah menggulirkan kebijakan pemberdayaan koperasi kembali dan kredit/pembiayaan untuk UKM. ”Sayangnya jumlah pemberian kredit/pembiyaan ini belum seluruhnya diterima masyarakat yang membutuhkan,” kata Mohammad. Hal senada disampaikan oleh Dr. Nizwar Syafaat saat membacakan sambutan Menteri Pertanian Republik Indonesia. ”Globalisasi merubah masyarakat petani menjadi masyarakat industri. Perubahan ini sedikit banyak menyebabkan pertanian Indonesia cenderung terpinggirkan,” kata Nizwar. Terkait dengan daya saing produk agribisnis nasional, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dan Peneliti Senior InterCAFE Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr.Bustanul Arifin, ada beberapa masalah yang menyebabkan daya saing produk agribisnis Indonesia rendah. ”Diantaranya produk agribisnis yang musiman, mudah rusak, dan beragam. Infrastruktur fisik khas Indonesia yang jauh dari memadai, itu pun hanya di Jawa dan Sumatera. Karakter infrastruktur non fisik yakni kualitas peraturan, sumber daya manusia dan inkonsistensi kebijakan. Serta karakter iklim investasi yang tidak terfokus pada upaya penciptaan nilai tambah, untuk lapangan kerja baru,” urai Bustanul. Sementara itu, Dr.Ir.Muslimin Nasution, APU menekankan bahwa koperasi mampu menciptakan globalisasi yang berkeadilan dan menjawab tantangan kesenjangan di dunia maupun Indonesia akibat globalisasi pasar bebas. Muslimin kemudian menjelaskan kesenjangan di Indonesia misalnya; usaha yang berukuran kecil dan menengah menyerap 99,4 persen lapangan kerja, atau 94,6 juta orang, tetapi hanya menikmati 55 persen nilai tambah ekonomi. Usaha besar yang mempekerjakan 600 ribu orang menikmati nilai tambah sebesar 45 persen. Jika pendapatan bulanan penduduk miskin Indonesia digabungkan, nilainya hanya seperempat dari harta satu orang terkaya di Indonesia. ”Yang memprihatinkan, sektor pertanian yang mempekerjakan hampir 40 juta orang hanya memperoleh kredit investasi sebesar 2 persen,” ujar Muslimin. Koperasi sebagai lembaga yang menjunjung nilai-nilai keadilan dan kebersamaan, akan memegang peran kritis terutama dalam membentuk dan menggerakkan perubahan-perubahan dalam globalisasi, serta dapat berjalan beriringan dengan pelaku ekonomi masyarakat lainnya. Muslimin menuturkan, ”Koperasi memegang peran kunci dalam beberapa hal terutama untuk menciptakan era globalisasi yang berkeadilan.” Ditanya soal latar belakang kegiatan ini, Direktur Manajemen Bisnis (MB) IPB, Dr.Arief Daryanto mengatakan sebuah pascasarjana yang berkualitas dilihat dari para staf pengajarnya, fasilitasnya dan lulusannya. ”Para lulusan MB IPB diharapkan memiliki kemampuan hardskill dan softskill. Kegiatan kepanitian yang diselenggarakan alumni MB ini menjadi latihan untuk mengasah softskill mereka,” katanya. Pembicara lain yang hadir dalam kesempatan tersebut yakni Ketua PKSPL Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr.Ir.Tridoyo Kusumastanto, MS, Tenaga Ahli JICA, Kenji Watanabe dan Staf Pengajar Manejemen Bisnis, Ir.Lukman Muhammad Baga. Moderator kegiatan ini Ir.Iqdan Fahmi, M.Ec dan Dr.Ir.Nunung Nuryartono, M.Sc. (ris)
