Penguatan Tata Kelola Digital, IPB University Mitigasi Risiko Keamanan Siber dan Perlindungan Data
IPB University terus memperkuat penerapan governance, risk, and compliance (GRC) dalam pengelolaan teknologi informasi guna menjaga keamanan sistem digital dan melindungi data pribadi sivitas akademika.
Melalui Lembaga Manajemen Informasi dan Transformasi Digital (LMITD), IPB University melakukan identifikasi aset kritis, penilaian risiko, serta strategi mitigasi untuk memastikan keberlanjutan layanan akademik berbasis digital.
Kepala LMTD IPB University, Ir Julio Adisantoso, MKom, menjelaskan bahwa penerapan GRC dalam pengelolaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah dilakukan oleh tim IT sebagai bagian dari tuntutan audit eksternal.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan sistem TIK di IPB dilakukan secara mandiri oleh tim internal. “Hal ini sudah merupakan tuntutan dari audit PricewaterhouseCoopers (PwC),” ujarnya.
Tim LMITD juga telah melakukan penilaian dan mitigasi risiko terhadap sistem teknologi informasi dan komunikasi. Ia menjelaskan bahwa langkah pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi aset informasi kritis yang dimiliki IPB University serta menganalisis potensi ancaman terhadap jaringan dan sistem informasi yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Tahapan berikutnya adalah melakukan penilaian atau scoring terhadap tingkat risiko setiap aset. Penilaian ini mengacu pada standar National Institute of Standards and Technology (NIST) dengan pendekatan kualitatif yang menghitung nilai risiko berdasarkan kemungkinan terjadinya ancaman dan dampak yang ditimbulkan.
“Kalau nilainya 15–25 itu tinggi, 8–14 sedang, dan 1–7 rendah. Kalau itu tinggi, maka kita wajib melakukan mitigasi segera,” jelasnya.
Bagi Julio, pusat data menjadi titik sentral seluruh jaringan kampus sehingga berpotensi menjadi single point of failure. Jika terjadi gangguan pada fasilitas tersebut, seluruh sistem informasi IPB University dapat terdampak, tegas dia.
Selain risiko infrastruktur fisik, tim LMITD juga mengidentifikasi kerentanan pada aplikasi, basis data, serta perilaku pengguna yang jumlahnya telah mencapai lebih dari 50 ribu akun.
Menurutnya, kesadaran keamanan digital pengguna masih menjadi tantangan, terutama terkait penggunaan kata sandi yang lemah dan potensi serangan phishing.
Sebagai upaya mitigasi, IPB University menerapkan sejumlah strategi jangka pendek dan menengah, antara lain penguatan keamanan akses melalui multi-factor authentication, segmentasi jaringan, serta kebijakan pencadangan data dengan metode 3-2-1 backup rules.
Selain itu, LMTD juga melakukan audit aplikasi secara rutin, penetration test, serta penguatan enkripsi terhadap data sensitif seperti nomor identitas, nomor telepon, dan data keuangan. (dr)
