Soul Talk Series LKPE IPB University Ulas Kaitan Biologi, Neurosains, dan Kepemimpinan
Kepemimpinan saat ini tidak cukup hanya mengandalkan strategi dan struktur. Ia memerlukan kesadaran diri, kematangan emosional, dan landasan nilai spiritual.
Dalam webinar Soul Talk Series 5 yang diselenggarakan oleh Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif (LKPE) IPB University, Senin (2/3), Dr Riza Arif Putranto, DEA, seorang pakar biologi molekuler dan bioinformatika, mengulas secara mendalam kaitan antara biologi, neurosains, dan kepemimpinan spiritual.
“Dalam konteks biologi, prefrontal cortex di otak memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan dan pengendalian emosi, berlawanan dengan amigdala yang mengatur reaksi emosional. Self leadership berarti mampu mengenali dan mengelola emosi diri sebelum memimpin orang lain,” jelas dia.
Lebih lanjut, Dr Riza menjelaskan pentingnya fondasi biologis untuk kesadaran diri yang sehat. “Tubuh kita terdiri dari sekitar 37 triliun sel, dan otak kita memiliki sekitar 86 miliar sel saraf yang mengatur cara kita berpikir dan bertindak,” ujarnya.
Ia menggarisbawahi konsep neuroplasticity, kemampuan otak untuk merangkai ulang pola pikir sesuai pengalaman dan lingkungan. Lingkungan yang positif dapat memperkuat kesadaran diri dan kemampuan kepemimpinan seseorang. “Orang yang berkumpul dengan mereka yang punya visi besar akan tertular semangat itu,” tambahnya.
Menurutnya, musuh terbesar seorang pemimpin bukanlah pihak luar, melainkan ego dan emosinya sendiri. “Leadership bukan soal mengendalikan orang lain dengan ketakutan, tapi bagaimana mencontohkan pengelolaan ego dan bersinergi dengan tim,” tegasnya.
Dr Riza juga membahas hubungan antara trauma dan gaya kepemimpinan defensif. “Manusia hampir tidak bisa lepas dari trauma, tapi yang membedakan adalah bagaimana seorang pemimpin mengelola traumanya,” katanya.
“Pemimpin yang tidak selesai dengan dirinya sendiri cenderung menciptakan organisasi yang penuh kecemasan. Oleh karena itu, pengelolaan trauma dan regulasi emosi menjadi kunci penting dalam kepemimpinan yang sehat,” urai dia.
Visi seorang pemimpin, sebutnya, juga harus dilandasi oleh cinta terhadap tujuan dan kontribusi nyata, bukan sekadar mempercantik citra organisasi.
Energi seorang pemimpin juga sangat memengaruhi timnya melalui mekanisme emotional contagion atau penularan emosi. “Pemimpin yang marah terus menerus akan menularkan kecemasan dan ketidakpastian kepada timnya,” ujar Dr Riza.
Ia mengaitkan hal ini dengan fungsi mirror neuron di otak yang membuat anggota tim meniru perilaku dan emosi pemimpinnya. Oleh karena itu, pemimpin harus mampu mengelola emosi secara bijak untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Sebagai penutup, Dr Riza memberikan motivasi bahwa pengambilan keputusan adalah bagian penting dalam kepemimpinan dan kehidupan. “Manusia akan salah kalau tidak mengambil keputusan apapun,” ujarnya.
Ia mengingatkan, lebih baik mengambil keputusan walaupun tidak sempurna daripada tidak mengambil keputusan sama sekali. “Keputusan yang baik adalah keputusan yang selesai,” pungkasnya dengan filosofi yang menginspirasi peserta webinar. (MW)
