Edukasi Publik atas Polemik Beasiswa, Guru Besar IPB University Tekankan Etika, Nasionalisme, dan Tujuan Pembangunan SDM

Edukasi Publik atas Polemik Beasiswa, Guru Besar IPB University Tekankan Etika, Nasionalisme, dan Tujuan Pembangunan SDM

edukasi-publik-atas-polemik-beasiswa-guru-besar-ipb-university-tekankan-etika-nasionalisme-dan-tujuan-pembangunan-sdm.jpg
Berita / Riset dan Kepakaran

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Prof Hermanto Siregar, menanggapi polemik terkait beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang tengah menyita perhatian publik.

Baginya, kejadian ini menyimpan sejumlah hikmah penting bagi publik, khususnya generasi muda dan penerima beasiswa. Ia menguraikan empat butir refleksi yang menekankan kesadaran kebangsaan, etika bermedia sosial, serta tujuan strategis pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

Pertama, Prof Hermanto menilai ungkapan “cukup aku aja yang WNI” menunjukkan minimnya kesadaran orang tersebut bahwa beasiswa yang dia peroleh berasal dari ‘uang rakyat’. 

“Kurangnya kesadaran itu menyebabkan kurangnya rasa berterima kasih kepada negara dan bangsa Indonesia, sehingga rasa ingin ‘membalas’ beasiswa itu dalam bentuk bekerja sebaik-baiknya membangun Indonesia tipis sekali atau mungkin tidak ada,” kata dia.

Kedua, Prof Hermanto juga mengamati adanya masalah etika dan norma pada banyak (meski tidak semua) anak muda saat ini. “Kalaupun kondisi di kampung halaman memang buruk, tentu tidak etis untuk membuka kekurangan tersebut di media sosial, yang dengan cepat menyebar ke audiens di negara-negara jiran bahkan lebih luas.” 

“Postingan menjadi viral, sebab yang menyatakan kekurangan itu adalah pihak yang sepatutnya berterima kasih kepada negara asalnya,” tambahnya lagi.

Ketiga, secara substansi, beasiswa LPDP adalah salah satu strategi pemerintah yang bertujuan mengembangkan SDM Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. 

Di dalam negeri, generasi muda diberi beasiswa LPDP menimba ilmu di perguruan-perguruan tinggi nasional bereputasi internasional. Sementara di luar negeri, penerima beasiswa dikirim belajar pada perguruan tinggi ternama yang memiliki ranking 100 terbaik dunia.

“Dengan pengalaman tersebut, mereka diharapkan menjadi penggerak atau pemimpin pembangunan masa mendatang. Polemik ini mengingatkan kembali semua pihak pada tujuan mulia strategi pemerintah membangun SDM,” ujar Prof Hermanto.

Terakhir, Prof Hermanto juga mengingatkan seluruh pengguna media sosial agar lebih berhati-hati sebelum memposting sesuatu kepada publik. “Sebelum melakukan posting, pikirkan dua-tiga kali apa dampak yang mungkin timbul,” ujarnya.