Tak Sekadar Makan Bersama, Prof Euis Sunarti Jelaskan Dampak Buka Puasa bagi Kelekatan Keluarga

Tak Sekadar Makan Bersama, Prof Euis Sunarti Jelaskan Dampak Buka Puasa bagi Kelekatan Keluarga

tak-sekadar-makan-bersama-prof-euis-sunarti-jelaskan-dampak-buka-puasa-bagi-kelekatan-keluarga.jpg
Ilustrasi (freepik)
Riset dan Kepakaran

Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah secara personal, tetapi juga menghadirkan ruang strategis untuk memperkuat relasi dalam keluarga. Momen buka puasa bersama dinilai memiliki makna sosial dan psikologis yang lebih dalam dibandingkan waktu makan bersama di hari biasa.

Menurut Prof Euis Sunarti, Guru Besar Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, momen berbuka puasa adalah saat yang membahagiakan bagi umat muslim. Setelah menahan lapar dan haus sepanjang hari, keluarga berkumpul, berbincang, dan berdoa bersama di waktu yang diyakini mustajab.

“Dalam ilmu keluarga, momen seperti ini menjadi wahana membangun tipologi keluarga regeneratif, resilien, rhythmic, dan tradisionalistik. Keluarga meningkatkan kohesi dan bonding, memperkuat kebersamaan melalui family time and routine, sekaligus memaknai waktu dan rutinitas tersebut dengan lebih dalam,” ujarnya.

Ia menjelaskan, buka puasa bersama memiliki makna khusus karena hanya terjadi satu bulan dalam setahun. Momentum ini berkontribusi pada penguatan fungsi ekspresif keluarga, terutama dalam aspek keberfungsian agama, pendidikan, serta cinta dan kasih sayang. 

“Ramadan juga menjadi wahana keluarga berinvestasi dalam resiliensi dengan memperkuat nilai, aturan, dan belief system keluarga, meningkatkan kapasitas keluarga, serta membangun atmosfer positif di rumah,” jelas Prof Euis

Lanjutnya, atmosfer kebersamaan saat menunggu azan Magrib seperti saling mengingatkan waktu berdoa, berbagi cerita ringan, dan menumbuhkan rasa syukur menjadi faktor penting dalam membangun kelekatan emosional antaranggota keluarga. “Situasi yang hangat dan penuh syukur akan meningkatkan kelekatan serta ketahanan sosial-psikologis keluarga,” jelasnya.

Ia menuturkan, berbagai nilai turut diperkuat melalui kebiasaan buka puasa bersama, antara lain nilai kebersamaan, cinta dan kasih sayang, saling peduli, berbagi, membantu, serta menghargai satu sama lain. 

“Ramadan mengingatkan kembali bahwa keluarga adalah institusi tempat setiap individu saling terikat, saling membutuhkan, dan saling memengaruhi,” ujar Prof Euis.

Meski belum ada penelitian spesifik yang membandingkan dampak buka puasa bersama pada keluarga inti, keluarga besar, maupun keluarga dengan orang tua bekerja, ia menegaskan bahwa prinsipnya sama. Selama atmosfer positif dan nilai-nilai kebersamaan dihadirkan, momen berbuka akan membawa dampak baik bagi individu dan keluarga.

“Percakapan ringan saat menunggu waktu berbuka pun memiliki peran penting. Interaksi tersebut dapat meningkatkan pemahaman dan penerimaan satu sama lain, membangun konsep diri yang positif, serta menjadi investasi dalam komponen resiliensi keluarga,” paparnya.

Agar buka puasa bersama tidak sekadar menjadi rutinitas, ia menyarankan setiap anggota keluarga hadir secara utuh, bukan hanya fisik, tetapi juga jiwa. Kebersamaan perlu dimaknai dengan rasa syukur dan diekspresikan melalui cinta serta kasih sayang.

Ia mengatakan, bagi keluarga yang tidak selalu dapat berbuka bersama karena kesibukan, kompensasi dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas komunikasi saat memiliki kesempatan bertemu. “Yang terpenting bukan hanya frekuensi pertemuan, tetapi kualitas komunikasi dan pemaknaan kebersamaan,” tutupnya. (Lp)