Prof Rizal M Damanik Beri Tips Puasa Aman bagi Ibu Menyusui agar ASI Tetap Lancar

Prof Rizal M Damanik Beri Tips Puasa Aman bagi Ibu Menyusui agar ASI Tetap Lancar

prof-rizal-m-damanik-beri-tips-puasa-aman-bagi-ibu-menyusui-agar-asi-tetap-lancar.jpg
Ilustrasi (freepik)
Riset dan Kepakaran

Ibu menyusui kerap merasa khawatir menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan karena takut produksi air susu ibu (ASI) menurun.

Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Prof Rizal M Damanik, menegaskan bahwa puasa bagi ibu menyusui tidak bersifat wajib dan memiliki ketentuan khusus dalam ajaran Islam.

“Puasa Ramadan memang diwajibkan bagi umat Islam, tetapi bagi ibu menyusui ada dispensasi. Artinya, tidak wajib berpuasa dan dapat menggantinya dengan membayar fidiah,” jelas Prof Rizal.

Meski demikian, ia menyebutkan bahwa ibu menyusui tetap diperbolehkan berpuasa apabila merasa mampu dan kondisi ibu serta bayi tetap aman. Namun, pelaksanaannya perlu dilakukan secara bijak dan bertahap.

“Kalau ibu menyusui ingin berpuasa, sebaiknya dicoba dulu secara bertahap, misalnya setengah hari. Lihat apakah aman atau tidak, karena ibu menyusui tetap memiliki kewajiban utama untuk memenuhi kebutuhan ASI bayinya,” ujarnya.

Prof Rizal mengingatkan bahwa produksi ASI sangat dipengaruhi oleh asupan makanan ibu. Jika asupan gizi tidak tercukupi, maka produksi ASI berpotensi menurun dan dapat berdampak langsung pada bayi.

“Jangan sampai keinginan ibu untuk berpuasa justru membuat bayinya kekurangan ASI. Produksi ASI sangat tergantung pada apa yang dikonsumsi ibu,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya memanfaatkan waktu sahur dengan optimal. Sahur menjadi momen krusial bagi ibu menyusui untuk memenuhi kebutuhan gizi, mengingat durasi puasa bisa mencapai lebih dari 12 jam setiap harinya selama sebulan penuh.

“Pada saat sahur, ibu menyusui harus mengonsumsi makanan bergizi dengan komposisi yang lengkap, terutama protein dan lemak yang cukup. Jangan justru diet atau mengurangi porsi makan, karena itu bisa menurunkan produksi ASI,” jelasnya.

Menurut Prof Rizal, makanan bergizi tidak harus mahal. Yang terpenting adalah komposisinya seimbang dan bervariasi.

“Makanan bergizi itu tidak harus mahal. Yang penting ada protein, lemak cukup, karbohidrat, dan variasi menu. Jangan menunya itu-itu saja,” ujarnya.

Ia mencontohkan, sumber protein tidak hanya berasal dari daging, tetapi juga dapat diperoleh dari telur ayam, telur puyuh, serta bahan pangan lainnya. Selain itu, konsumsi sayur dan buah juga sangat penting.

“Kita punya banyak sumber pangan lokal. Di Jawa Barat misalnya, ada palawija dan aneka sayuran yang bisa dimanfaatkan. Ini sangat baik untuk ibu menyusui,” tambahnya.

Selain makanan utama, Prof Rizal juga menyebutkan bahwa ibu menyusui dapat mengonsumsi sayur torbangun untuk membantu meningkatkan produksi ASI. Torbangun kini tidak hanya tersedia dalam bentuk sayur, tetapi juga dalam bentuk kapsul.

“Sayur torbangun bisa dikonsumsi langsung atau dalam bentuk kapsul yang sekarang sudah banyak tersedia. Ini dapat membantu meningkatkan produksi ASI selama Ramadan,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa pemenuhan gizi bagi ibu menyusui sangat penting, tidak hanya untuk kesehatan ibu dan bayi, tetapi juga sebagai upaya jangka panjang dalam menekan angka stunting.

“Pemenuhan gizi yang baik pada ibu hamil dan ibu menyusui sangat berkontribusi dalam mengurangi prevalensi stunting,” pungkasnya. (AS)