Prof Ekawati Sri Wahyuni: Dinamika Penduduk Ubah Pola Konsumsi Pangan Nasional
Dinamika kependudukan Indonesia yang ditandai dengan perubahan struktur umur, urbanisasi, dan pengecilan ukuran rumah tangga, tengah menggeser secara fundamental pola permintaan dan konsumsi pangan nasional.
Hal tersebut diungkapkan oleh Prof Ekawati Sri Wahyuni, Guru Besar Demografi dan Ilmu Kependudukan Fakultas Ekologi Manusia IPB University.
Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu (14/2), ia menyebut tiga faktor dinamika penduduk yang menjadi pendorong utama transformasi pangan.
Pertama, perubahan struktur umur akibat penurunan kelahiran dan kematian. Kondisi ini melahirkan bonus demografi puncak pada 2030–2040, sekaligus meningkatkan proporsi lansia.
“Dalam pilihan pangan, perbedaan selera muda-tua yang dipengaruhi peningkatan kesejahteraan nampak pada pergeseran pola makan,” jelasnya.
Konsumsi beras dan serealia bergeser menuju pangan bernilai tinggi seperti protein hewani, buah, dan sayuran, diiringi peningkatan konsumsi pangan padat kalori seperti gula atau yang dikenal sebagai transisi gizi.
Kedua, urbanisasi mendorong ragam konsumsi pangan yang makin beragam, termasuk bahan pangan impor yang tidak diproduksi di dalam negeri.
“Ketergantungan pada sumber eksternal ini meningkatkan kerentanan terhadap gangguan rantai pasok global dan fluktuasi harga,” paparnya.
Pada saat bersamaan, ketimpangan pembangunan antardaerah turut memunculkan fenomena beban ganda malnutrisi, yakni kekurangan gizi dan kelebihan gizi dalam populasi yang sama.
Ketiga, penurunan ukuran rumah tangga serta meningkatnya partisipasi perempuan di sektor publik mengubah dinamika ekonomi rumah tangga.
“Ini semisal pergeseran pola penyediaan makanan ke pangan cepat saji,” imbuhnya.
Ia juga menegaskan pentingnya pendekatan berbasis data kependudukan untuk memahami transformasi permintaan dan konsumsi pangan.
“Hal ini perlu agar peluang yang berkembang dapat dimanfaatkan, sekaligus mengatasi tantangan gizi-pangan dan beradaptasi dengan distribusi dan pergeseran perilaku konsumen,” tuturnya.
Prof Ekawati juga memaparkan dilema kemandirian pangan yang kini dihadapi Indonesia. Komoditas seperti gandum untuk bahan mie dan roti 100 persen impor, sementara produksi domestik daging sapi masih di bawah permintaan.
“Perubahan selera ke produk nontropis meningkatkan kerentanan terhadap fluktuasi harga global dan geopolitik,” paparnya.
Meski demikian, ia menawarkan pendekatan pragmatis melalui rekomendasi kebijakan bagi pemerintah.
“Evaluasi swasembada dengan pendekatan pragmatis, seimbangkan produksi domestik dengan impor strategis untuk komoditas sulit tumbuh,” tegasnya.
Tren gaya hidup sehat juga membuka pasar produk organik, plant-based, dan functional food untuk kelas menengah, ditambah inovasi teknologi pangan seperti kemasan ramah lingkungan dan logistik rantai dingin.
Menanggapi transisi demografi ini, sektor swasta didorong melakukan diversifikasi dan segmentasi produk spesifik untuk lansia dari sisi tekstur dan nutrisi, serta single household dengan kemasan kecil.
“Kuatkan kehadiran di e-commerce dan strategi pemasaran digital relevan bagi gen Z,” imbuh Prof Ekawati. (MW)
