Kolaborasi IPB University-Prancis Hadirkan FortRiz, Inovasi Beras Fortifikasi untuk Gizi Anak Indonesia
IPB University bersama mitra Indonesia–Prancis meluncurkan FortRiz sebagai langkah strategis mendukung peningkatan kualitas gizi nasional melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Inisiatif ini melibatkan Lembaga Riset Internasional Pangan, Gizi, Kesehatan, dan Halal (LRI-PGKH); Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center IPB University; French National Research Institute for Sustainable Development (IRD), Savica, serta World Food Programme (WFP).
Program FortRiz menjadi wujud nyata kolaborasi bilateral dalam memperkuat sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Wakil Rektor IPB University bidang Konektivitas Global, Kerjasama, dan Alumni, Prof Iskandar Z Siregar menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan terobosan penting dalam menjembatani sains dan kebijakan publik.
“Kerja sama pemerintah Prancis dan Indonesia melalui IPB University, khususnya di bawah LRI-PGKH merupakan inisiatif yang sangat baik. Program ini dapat mengisi berbagai kesenjangan pengetahuan nutrisi yang dihubungkan dengan program MBG,” ujarnya pada acara Launch Event and Kick-Off Meeting FortRiz di International Convention Center (IICC), Bogor, 12/2.
Ia menambahkan, keberhasilan MBG membutuhkan dukungan lintas negara dan lintas sektor. “Program MBG perlu dukungan internal maupun eksternal agar berjalan sukses. Ini bagian dari kontribusi bersama mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
FortRiz berfokus pada pengembangan beras fortifikasi yang diperkaya vitamin dan mineral untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah. Lebih dari 20 persen anak Indonesia mengalami kekurangan mikronutrien. Tahap awal mencakup uji implementasi di empat wilayah dengan sekitar 2.400 siswa sebagai penerima manfaat langsung.
Dengan teknologi fortified rice kernel (FRK), penambahan zat gizi dilakukan tanpa mengubah pola konsumsi dan dengan biaya minimal. FortRiz juga menjalankan uji mutu, uji rasa, dan studi penerimaan agar produk efektif, aman, dan diterima secara budaya.
Kepala LRI-PGKH IPB University, Prof Erika B Laconi menilai program ini strategis bagi penguatan riset pangan dan kesehatan.
“Inovasi tidak hanya untuk ibu dan bayi, tetapi juga remaja sebagai calon orang tua. Peningkatan gizi harus dimulai sejak dini dan penting dalam perspektif kesetaraan gender,” katanya.
Konselor Kerja Sama Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, Mr Jules Irman menekankan peran Badan Gizi Nasional dalam memastikan kebutuhan gizi kelompok rentan.
“Ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di bawah lima tahun rentan defisiensi mikronutrien. Fortifikasi beras adalah langkah penting, dan MBG dapat menjadi platform strategis untuk integrasinya,” jelasnya.
Selain berdampak pada gizi, FortRiz memperkuat pemberdayaan sosial ekonomi melalui pelatihan bagi tenaga dapur sekolah mayoritas perempuan di bidang keamanan pangan dan praktik fortifikasi. Pada skala nasional, program ini berpotensi mendukung puluhan ribu pekerja dapur serta memberi manfaat bagi jutaan keluarga.
Sebagai bagian Tahun Inovasi Indonesia–Prancis 2026 dan 50 tahun kehadiran IRD di Indonesia, FortRiz menjadi simbol nyata kemitraan riset yang berdampak langsung pada kebijakan publik. Program ini mendapat dukungan Kementerian Eropa dan Urusan Luar Negeri Prancis serta Kedutaan Besar Prancis di Jakarta, menegaskan komitmen bersama untuk masa depan gizi Indonesia yang lebih baik. (AS)
