Guru Besar IPB University Paparkan Peran Near Infrared dalam Identifikasi Asal dan Jenis Kayu
Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Lina Karlinasari, menjelaskan pemanfaatan teknologi near infrared (NIR) dalam mendukung penelusuran asal-usul kayu dan produk kayu untuk menjamin traceability, legalitas, serta keberterimaan dalam perdagangan internasional.
Prof Lina menjelaskan bahwa dalam identifikasi kayu terdapat dua pendekatan utama, yakni identifikasi taksonomi kayu dan identifikasi berdasarkan asal geografis.
“Kombinasi identifikasi jenis dan asal-usul geografis kayu akan sangat membantu dalam kepastian legalitas pemanfaatan kayu,” ujarnya dalam Workshop Indonesia Wood Identification Program, beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan, metode anatomi dan teknologi Direct Analysis in Real Time–Time of Flight Mass Spectrometry (DART-TOF MS) umumnya digunakan untuk identifikasi taksonomi. Sementara isotop, NIR, dan genetika lebih kuat untuk penelusuran asal.
“Dalam konteks ini, NIR menempati posisi strategis karena secara teori mampu menjawab kedua kebutuhan, baik taksonomi maupun asal geografis, khususnya pada tahap skrining dan verifikasi cepat,” paparnya.
Identifikasi berbasis kimia melalui chemical fingerprinting dan chemical profiling juga menjadi bagian penting. NIR dan fourier transform infrared (FTIR) memanfaatkan pola spektra sebagai ciri khas material tanpa harus mengidentifikasi setiap senyawa satu per satu.
Menurut Prof Lina, NIR bekerja pada rentang spektra 800–2500 nm yang berkaitan dengan vibrasi molekul ikatan OH, CH, dan NH. Dengan bantuan analisis kemometrika, teknologi ini mampu memprediksi sifat material secara cepat, non-destruktif, bahkan real-time.
“Spektra NIR dapat membedakan kontribusi selulosa, hemiselulosa, lignin, hingga ekstraktif, bahkan perbedaan kayu gubal dan kayu teras,” jelasnya.
Ia juga memaparkan bahwa keunggulan utama NIR terletak pada kecepatan, preparasi minimal, dan sifatnya yang tidak merusak sampel. Namun demikian, metode ini memiliki keterbatasan terkait sensitivitas terhadap variasi fisik sampel dan ketergantungan pada model kalibrasi yang kuat.
Dalam praktik kehutanan dan ilmu kayu, NIR telah dimanfaatkan untuk memprediksi kadar air, sifat mekanis, komposisi kimia, hingga sortasi bahan baku industri.
Sebagai contoh implementasi, Prof Lina mengungkapkan pemanfaatan NIR dalam program International Tropical Timber Organization-Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (ITTO-CITES) di Amerika Selatan untuk memonitor perdagangan kayu mahoni.
Selain itu, ia memaparkan hasil penelitian penelusuran asal kayu eboni Sulawesi yang dilakukan bersama World Resources Institute. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa NIR berpotensi mendiskriminasi asal geografis eboni berdasarkan kandungan ekstraktif dan pola spektranya.
“Kayu eboni dikenal keras dan awet, namun tergolong rentan menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature), sehingga pengawasan perdagangannya menjadi krusial,” ungkapnya. (dr)
